Aku bukan siapa-siapa…

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Inspirasi | Kesaksian | Meditasi No Comments

Aku bukan siapa-siapa

Aku bukan siapa-siapa adalah bentuk ego atau hanya buah pikiran yang merasa hebat. Dengan mengatakan ‘Aku bukan siapa-siapa’ merupakan penyangkalan terhadap ‘Aku’. Tiada mungkin ‘Aku’ tidak eksis. Ego merasa paling hebat dengan cara menafikan diri Sang Aku.

Bagaimana mungkin kita, tubuh, bisa eksis tanpa kehadiran ‘Aku’ Tidak beda dengan para pemaham ‘Ateis’. Ketika mengatakan ‘Tidak percaya Tuhan’, sesungguhnya ia mengakui eksistensi Tuhan terlebih dahulu, baru pikirannya mengatakan tidak percaya. Obyek dahulu eksis atau ada, baru bisa menyangkalnya. Tanpa adanya obyek, kita tidak bisa mengungkapkan kata untuk menyangklanya. Sungguh menggelikan…

Permainan Ego

Kita semua terjebak dalam dunia ego. Dualitas. Inilah alam kita. Tanpa kita sakit, kita tidak akan bisa mensyukuri betapa nikmatnya calma keadaan sehat. Kita semua sedang sakit. Keberadaan kita di dunia saat ini bertujuan untuk memulihkan diri dari sakit yang disebut keterikatan. Tampaknya pikiran kita tidak terikat, namun benarkah demikian saat kematian menjemput?

Bila kita bisa tersenyum saat kematian, menyambut dewa Yama, baru kita terbebaskan. Tiada rasa sakit yang dirasakan. Mungkinkah ini terjadi? Rasa kesakitan yang mungkin dirasakan saat keterpisahan antar tubuh dan roh terjadi karena keterikatan yang amat sangat terhadap kehidupan bendawi.

Sangat mungkin bila kita berlatih sepanjang hidup ini. Roh merupakan bentuk dari gugusan pikiran dan perasaan. Rasa terikat terhadap benda dunia, baik keluarga maupun ingatan pada benda kesayangan membuat kita merasakan sakit perasaan. Ketidakrelaan untuk meninggalkan menciptakan rasa sakit yang luar biasa.

Dunia Ilusi

Dunia ini adalah ciptaan kita manusia sendiri. Silakan tunjukkan yang bukan ciptaan kita? Smua benda yang dibuat until memenuhi kenyamanan indrawi adalah ciptaan manusia. Tentu bukan pohon dan gua atau batu yang tidak ada pabriknya atau industrinya.

Kita sengsara atau menderita juga karena akibat tidak terpenuhinya keinginan benda illusi ciptaan kita. Ilusi berarti yang selalu berubah. Sesaat ada di tangan kita lain waktu berpindah tangan. Tidak abadi. Ketergantungan kita terhadap dunia ilusi menciptakan penderitaan yang ilusif juga.

Penderitaan kita sebagai akibat kita merelakan menjadi budak benda ciptaan kita. Silakan baca lengkap di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 3 =

Scroll Up