Apresiasi menyatukan, Toleransi bibit perpecahan

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Apresiasi menyatukan

Apresiasi menyatukan karena rasa menghargai muncul atau terwujud bila dan hanya bila seseorang bisa memahami dan percaya bahwa perbedaan hanya ada di permukaan. Di balik semua perbedaan sesungguhnya digerakan oleh Dia Hyang Maha Tunggal adanya.

Sebagaimana dicetuskan oleh Mpu Tantular: Bhineka Tunggal Ika. Mpu Tantular bukan tanpa dasar memberikan pernyataan ini.  Dia menyadari bahwa segala sessuata di balik perbedaan pada permukaan digerakkan oleh hyang Maha Satu adanya. Oleh karenanya pada kalimat Bhineka Tunggal Ika ada 3 kali sebutan kata satu. Eka berarti satu; Tunggal juga bermakna satu; dan terakhir Ika jura memberikan arti satu.

Menghargai lebih tinggi daripada toleransi. Toleransi berarti menerima perbedaan saja. Perbedaan berarti masih pada tataran permukaan. Karena menghargai berarti menghormati kepada sesuatu yang menggerakkan segala makhluk. Lebih dalam daripada sekedar lapisan permukaan. Yang menghidupi segala makhluk di alam ini hanya Dia Hyang Maha Tunggal.

Melampaui Mind

Bertoleransi belum berani memberikan pernyataan bahwa keyakinan atau kepercayaanku tidak lebih baik dari keyakinan/kepercayaanmu. Mereka me-apresiasi akan dengan lapang dada mengatakan bahwa keyakinan/kepercayaannya tidak lebih baik dari keyakinan/kepercayaan yang dianut oleh orang lain.

Toleransi masih pada ranah atau wilayah pikiran atau mind/perasaan atau emosi yang senantiasa berubah, sedangkan mereka yang meapresiasi tidak lagi berada pada wilayah pikiran permukaan. Karena sesungguhnya perbedaan berada di permukaan. Bagaikan atom, tidak ada bedanya. Bila tubuh kita dibelah terus sampai menjadi atom, kemudian hal sama dilakukan terhadap kayu, apakah ada perbedaan antara atom kayu dan atom tubuh kita?

Bila dikatakan bahwa awan yang selalu bergerak bagaikan pergerakan pikiran kita, maka cara berpikir yang memberikan apresiasi ada pada tataran langit yang permanent atau tetap tidak bergerak atau berubah seperti awan.

Karena sampai sekarangpun, yang dikatakan atom hanyalah suatu asumsi. Belum pernah seseorang bisa melihat atom. Keberadaan atom merupakan keabadian. Atom bisa lenyap bila bumi ini punah.

Jiwa

Kita semua tahu kata jiwa, tetapi benarkah kita memahami bahwa Jiwa satu adanya? Jiwa bukanlah roh. Silahkan baca ini.

Jiwa bagaikan matahari. Yang memberikan kehidupan di alam semesta. Apakah sinar matahari bisa dipisahkan dari cahaya yang mask ke kamar kita? Sama sekali tidak dapat. Tanpa ada sinar tidak akan ada cahaya. So, Jiwa individu bagaikan cahaya yang masuk ke rumah. Sinar matahari tidak bakal ada tanpa keberadaan matahari.

Jadikan Jiwa sebagai pemandu adalah jalan menuju kebebasan sejati…..

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen + seven =

Scroll Up