Dari 0 (nol) kembali ke 0 (nol). …

1 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Meditasi | Pengembangan Diri 1 Comment

Nol (0)

Nol (0) adalah simbol keseimbangan. Mereka yang seimbang berarti diam. Dengan istilah kerennya, menjadi saksi. Segala perubahan tidak akan mengusik ketenangannya. Para master dan para suci yang mulia berada pada tingkat ini. Mereka bisa menjadi pengamat atas semua kejadian, termasuk yang minima diri sendiri. Mereka sadar bahwa keberadaan di dunia untuk berbagi pengalaman.

Dalam segala hal, bila aksi sama dengan reaksi. Dalam ilmu teknik ketekniksipilan dilambangkan sigma atau jumlah gaya ke atas dan ke bawah sama dengan 0 (nol); Gaya yang mendorong ke kanan sama dengan gaya arah ke kiri (0); Dengan kata lain, benda dalam keadaan diam. Atau benda seimbang.

Akar Permasalahan

Belajar dari nol digital. Saat mengamati perubahan angka nol dari suatu jam digital, segalanya semakin jelas bahwa dari nol kembali ke nol.

Terciptanya semua angka bermula ketika angka nol ditambah garis atau dikurangi garis. Suatu angka semula bentuk kosong dikurangi beberapa garis akan membentuk satu garis. Kemudian kita sebut angka 1 (satu). Angka 2 (dua) dan selanjutnya terbentuk dengan cara sama. Pada puncaknya bentuk angka 9. Setelah itu kembali ke angka 0.

Bila angka awal  (satu/1) kita ibaratkan ego, maka segala permasalahan terjadi karena adanya ego. Dan bila kita ingin kembali ke asal mula kita, maka penuhi kepuasan duniawi sampai pada tingkat tertinggi, maka akan tercapai kehampaan. Karena realitanya sampai pada pemahaman bahwa kebahagiaan sejati tidak terdapat pada terpenuhinya keinginan. Bagaikan minum air laut. Tampaknya bisa memenuhi rasa haus kita. Yang terjadi sebaliknya. Semakin haus dan haus….

Para Orang Kaya

Warren Buffett, Bill Gates, Mark Zuckerberg, dan beberapa orang kaya merasakan kebahagiaan sejati bukan dari perolehan menikmati kekayaannya. Mereka bisa merasakan kebahagiaan sejati ketika bisa berbagi untuk kemanusiaan. Master saya, Svami Anand Krishna pernah menuliskan atau menyampaikan bahwa ketika kunjungannya ke Harvard mengatakan bahwa yang tidak diberikan di sekolah ini adalah pendidikan tentang kemanusiaan. Inilah kesadaran tertinggi yang diperolehnya setelah begitu banyak kekayaan yang dimilikinya. Ia berada pada keadaan bisa menikmati semua kenikmatan dunia, tetapi ia tetap tidak terpuaskan. Tidak membahagiakannya.

Saya juga pernah membaca kisah seorang kaya yang kekayaannya belum sampai sebagaimana kekayaan Bill Gates dan Warren Buffet. Orang tersebut menyumbangkan kekayaannya pada lembaga kemanusiaan, kemudian ia hidup sederhana. Ia sampai pada keadaan bahwa segala kemewahan atau kenikmatan tidak membahagiakannya.

Ceiling

Kita bisa belajar dari pengalaman orang. Mereka billing bahwa api panas, oleh karenanya kita tidak perlu lagi memasukkan tangan kita ke dalam api untuk membuktikannya.

Dari mereka yang berhasil menghimpun kekayaannya begitu berlimpah, akhirnya juga sadar bahwa kekayaan tidak bisa memenuhi kebahagiaan sejati yang sesungguhnya ada dalam diri sendiri. Dia yang Maha membahagiakan berada dalam diri sendiri. Yang dibutuhkan adalah kesadaran…

Membuat batasan atau ceiling bagi diri kita sendiri adalah sangat dibutuhkan. Dan kita bisa. Karena segala masalah bermula dari diri kita sendiri. Kita semua adalah GOD.


  1. Putu teguh - Januari 14, 2018

    Seperti halnya budha mereka sangat mempercayai karma bukan hanya sekedar ucpan.. mereka tahu betul apa itu karma.. makanya mereka memutus karma,, seperti para monk tidak melakukan apa hanya meditasi .. ketika kmu melakukan kejahata harus siap menerima kejahatan ketika melakukan kebaiakan harus siap menerima kebaikan maka tak ada habisnya.. jadinya mereka memutus itu agar dintengah2 .. apakah sperti itu analoginya mas? Mkasi semua artiker mas hampir semua sudah saya rasakan di kehidupan yang INI, tidak tahu dinkehidupan yg sblumnya.. mkanya dri SMA teman2 guru kluarha bilang saya aneh saya malaj bangga di bilang tua saya juga gx ngerti., tpi habis sharing sama bnyak spiritual memang kesadaranmu sudah tua walaupun ragamu masih muda.. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × 1 =

Scroll Up