Hanya tubuh berubah….

2 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Meditasi | Pengembangan Diri 2 Comments

Tubuh berubah

Ya, ketika kita mati hanta tubuh berubah. Dari ada menjadi tiada yang itupun hanya berubah menjadi benda lain saja. Tubuh dikubur membusuk kemudian jadi air dan diserap oleh pohon. Buah pohon kita makan lagi. Yang hidup terus adalah pikiran dan perasaan yang kita kenal sebagai roh.

Roh yang terdiri dari pikiran serta perasaan ini membawa emosi sebelum kematian. Bila pikiran serta perasaan tidak tenang saat kematian, maka rasa gelisah ini akan terus terbawa. Celakanya bila pikiran kita membawa kenangan pikiran tentang yang kita inginkan semasa hidup akan terbawa terus. Karena ketiadaan otak sebagai perangkat keras pengolah tiada, maka kondisioning pikiran stagnant pada keadaan tersebut. Inilah penyebab tidak bisa lahir dalam waktu singkat. Kita terjebak oleh pikiran sendiri.

Pikiran tenang

Dalam buku Bhagavad Gita by Svami Anand Krishna, www.booksindonesia.com dituliskan sebagai berikut:

‘Saat tibanya waktu ungut meninggalkan raga, jika seorang Yogi berpikiran tenang, terkendali, dan berjiwa penuh devosi memusatkan prãna atau aliran kehidupannya di tengah kedua alis mata, maka niscaya ia mencapai Sang Purusa, Gugusan Jiwa yang Suci.’

Bukankah tujuan manusia untuk mengalami reunion dengan Dia Hyang Maha Suci? Itulah tujuan utama lahir ke bumi. Tanpa memahami tujuan utama ini, kita akan terjebak di alam pikiran sendiri setelah kematian. Ini pula penyebab saat kita hidup di sekitar kita terdapat roh sebanyak 3 kali dari jumlah kita.

Keterangan mengenai jumlah roh sekitar kita berasal dari buku Kearifan Mistisisme oleh Svami Anand Krishna.

Dalam buku tersebut disebutkan bahwa jumlah roh yang ada di sekitar kita sebanyak 3 kali. Pada awalnya, saya bingung. Bukankah jumlah manusia saat abad ini terbanyak? Kurang lebih 6 milyar. Jadi saat ini ada roh sebanyak 18 milyar.

Setelah saya renungkan yang kemudian dikaitkan dengan ayat kutipan Bhagavad Gita Bagi Orang Modern di atas, maka ternyata alam pikiran kita sebagai penghalang terjadinya kelahiran kembali si roh. Ini terjadi bila pikiran kita tidak tenang dan terkendali saat akhir kematian.

Untuk menciptakan pikiran tenang dan terkendali tanya bisa dibentuk hanya dan hanya saat otak masih ada. Bila saat kita hidup sekarang tidak melakukan latihan secara repetitif dan intensif, sangat kecil harapan saat kematian tiba pikiran dalam keadaan tenang dan terkendali. Dan kita terjebak di alam pikiran ciptaan sendiri dalam jangka waktu yang lama. Bahkan Amat sangat lama.

Mungkin ada yang bertanya, lantas yang lainnya darimana? Ada suatu proses evolusi yang sedang berlangsung. Roh yang baru lahir sebagaimana proses alam, sedangkan roh yang sudah pernah lahir ke bumi telah terkontaminasi alam benda tidak bisa lahir secara otomatis. Padanya dikenakan hukum sebab akibat.


  1. Putu teguh - Januari 14, 2018

    Jadi apakah ini yg disebut roh gentayangan seperti nyatanya kuntilanak poconh itu mas karena masih nyangkut pikiranya tentang dunia? Mohon balasannya.. saya dapat sedikit dri artikel ini menurut analisa saya makanya ada istilah ketika kluarga ada yg meningal jangan sedih atau menangis karena mereka merasakan jadinya kepikiran dan nyangkut di pikiran itu dap pada akhirnya perjalanan mereka tidak tenang.. 

    • Tepat sekali. Apa yang terpikirkan saat ujung kematian itulah jadi rekaman terus sampai kehidupan berikutnya.
      Dalam buku Bhagavad Gita, Svami Anand Krishna menyebutkan bagaikan seorang photographer yang mengambil photo kita. Seperti itulah wajah kita. Jika sedang tersenyum, ya wajah penuh senyum itu yang tampak pada si roh. Bila pikiran penuh beban, ya itu terus dibawa sampai alam roh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × four =

Scroll Up