Hobi, Penyakit atau Obat???

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Hobi

Hobi terhadap sesuatu bendawi yang membuat kita begitu terikat dan bang adalah jenis penyakit. Saya dulu iri terhadap mereka yang memiliki kesukaan mengumpulkan sesuatu, misal orang yang suka mekoleksi mobil mania, bone batman, atau korek api dari berbagai negara. Karena saya sama sekali tidak memiliki kesukaan demikian.

Setelah usia semakin menua dan memahami bahwa tujuan kelahiran bukanlah semakin mengikatkan diri pada dunia benda, saya sekarang baru menyadari bahwa semuanya akhirnya membawa penderitaan. Ada seseorang yang sampai menceraikan istrinya karena si istri tidak suka akan kesukaannya mekoleksi, bukankah ini penyakit ciptaan kita sendiri?

Hobi Baik

Namun ada juga kesukaan yang baik. Kesukaan yang membuahkan kebebasan Sang Jiwa. Lakukan perjalanan ke dalam diri. Berkumpullah dengan orang yang satu frekuensi melakoni perjalanan untuk membebaskan keterikatan dunia. So, kita sendiri menjadi penentu mengenai kesukaan yang bermanfaat bagi evolusi jiwa atau merugikan. Inilah ketepatan bertindak. Ini bukti bahwa Buddhi atau intelejensia berkembang.

Mungkin ada yang bertanya: Bagaimana bila kesukaannya berdana atau berbagi?

Untuk menilai tentang hal ini juga dibutuhkan kecerdasan. Jangan sampai pemberian kita digunakan untuk hal yang negatif atau buruk. Jika tidak tepat penggunaan yang diberikan, maka akan menyebabkan musibah bagi lainnya. Misalnya, ada seorang anak di jalan yang minta-minta. Pemberian kita tidak akan membuatnya baik. Sebaliknya akan membuat pola pikiranya nyaman. Dia pikir dengan cara minta-minta akan menyamankan dirinya. Ia akan menjadi malas untuk berusaha. Jadi jadilah cerdas sebelum memberikan sumbangan. Sasarlah yang dibutuhkan bukan diinginkan.

Spiritualkan pekerjaan

Landasan semua perbuatan atau laku adalah spiritual. Evolusi kesadaran. Transformasi intelektual menjadi intelejensia. Inilah landasan utama dalam bermasyarakat. Kehidupan boleh di dunia, tetapi cara berpikir menuju keilahian. Terarh ke alam Ilahi berarti melandaskan bahwa semua tindakan bagi kepentingan orang banyak. Bukan bagi kenyamanan diri atau ego based.

Namun juga harus hati-hati agar tidak terjebak dengan yang disebut sebagai ego spiritual. Dengan mengatakan bahwa kita hanyalah hamba, sesungguhnya bentuk ego spiritual. Kata ‘Aku/kami’ adalah bentuk lain dari ego. Ada ilusi keterpisahan antara hamba dan tuan. Benarkah ada keterpisahan?

Untuk menjadi pelaku yang baik, suka tidak suka; mau tidak mau harus mengubah pola pikiran. Transformasi diri terlebih dahulu sehingga memahami laku diri baik di dunia ramai. Sedangkan landasan pikiran bagi kepentingan banyak orang.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 − 2 =

Scroll Up