Kekerasan dan Kebencian pikiran bagaikan ledakan bom

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Ledakan bom

Ledakan bom yang berasal dari kekerasan dan kebencian pikiran kita jauh lebih dahsyat daripada ledakan bom sesungguhnya. Untuk meledakkan bom, badan membutuhkan perencanaan yang mata sekali, ditambah kedja leras selama berbulan-bulan. Pikiran bisa meledakkannya di mana saja, kapan saja, dan dalam sekejap. Tidak perlu perencanaan. Tidak perlu kerja keras. Berapa banyak bom kebencian dan kekerasan yang telah kita rakit dan ledakkan di bumi Nusantara ini?! (Bhaja Govindam).

Kita berperan sebagai pembawa bom bunuh diri. Akibat ledakkan bom kebencian melalui ucapan atau pun tulisan pada halaman media sosial tidak beda dengan bom bunuh diri. Si pembawa bom mengalami kematian, sedangkan bom kekerasan dan kebencian pikiran berakibat sama. Silakan baca ini.

Tanpa Kesadaran

Kita sering membaca di media sosial atau pun koran, bahkan juga di layar kaca. Begitu banyak tokoh yang gelarnya berderet, tetapi sering berkata yang tidak disadari bahwa akibat ucapannya bisa menebar kekerasan dan kebencian antar manusia. Namun lucunya, berita seperti ini banyak dibaca orang. Hal ini tidak mengherankan, ini alasannya.

Seharusnya sebagai sesepuh atau public figure yang dipandang sebagai panutan bisa menebarkan kebaikan melalui ekspresi di media sosial. Sayangnya, mereka melakukannya tanpa kesadaran. Sadar berarti memahami akibat dari ucapannya. Menggaris bawahi hal ini, sesungguhnya kebanyakan dari kita hdup dalam keadaan tidak sadar bila menyampaikan sesuatu yang pada akhirnya memecah belah. Alangkah mengerikan!!!!

Intelektual

Gelar yang diperoleh di bangku sekolah bahkan perguruan tinggi tidak menjamin bahwa kita bisa jadi manusia yang sebenarnya manusia. Apa itu manusia? Kita masih begitu kental dengan sifat hewaniah dalam diri kita. Selama kita masih suka menjadi bomber bunuh diri dengan menebarkan kekerasan dan kebencian pikiran, selama itu pula kita belum menyadari kemanusiaan kita.

Berderetnya gelar belum bisa menjamin bahwa kemanusiaan seseorang terbangun. Sebaliknya akan semakin menjauhkan dari sifat mulia kemanusiaan. Tujuan keberadaan kita di bumi adalah untuk membangunkan kemanusiaan yang selama ini tertidur lelap.

Celakanya, banyak dari kita hanya mengejar kepintaran intelektual. Dan ini sangat dibanggakan di masyarakat. Bahkan bagi golongan tertentu, setelah pulang dari melakukan perjalanan suci, mesti dipanggil dengan gelar tertentu. Yang di tempat asalnya dan juga beberapa negara lain, gelar tersebut tidak dikedepankan.

Semuanya berpangkal dari ketidaksadaran kita…..

Kita lupa mengembangkan intelejensia atau budi praktiti

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 − three =

Scroll Up