Kemahatunggalan….

0 Filsafat | Pengembangan Diri No Comments

Kemahatunggalan

Kemahatunggalan menafikan penyembah dan yang menyembah. Setelah saya renungkan bolak balik, tiada kesimpulan kecuali menyadari bahwa diri itu sesungguhnya adalah Tuhan yang selama ini kita kenal dan katanya disembah. Mari kita renungkan tanpa menghakimi terlebih dahulu. Bila saya menyadari bahwa diri sebagai Tuhan, tentu secara otomatis anda juga harus sadar sebagai Tuhan. Dengan kesadaran ini, pelayanan terhadap sesama Tuhan menjadi suatu keindahan.

Bila kita mengatakan Tuhan Maha Tunggal, adakah saya, Anda, si Polan, si Badu? Tidak ada. Semuanya hanya Tuhan yang ada. Jika Anda mengatakan bahwa Anda menyembah Tuhan berarti ada dua individu; Yang disembah dan yang menyembah. Tuhan sebagai obyek yang disembah dan Anda sebagai penyembah. Kemudian dimana kemahatunggalan Tuhan? Tunggal berarti tiada yang disembah dan penyembah.

Kesejajaran

Bila dikatakan ada yang disembah dan penyembah berarti antara yang disembah dan penyembah sejajar. Mungkinkah? Bila Anda mengagumi seseorang, artinya Anda terpisah dari orang tersebut. Dengan kata lain, Anda dan si orang yang dikagumi terpisah. Dan ke duanya memiliki kesejajaran bentuk.

Suatu ketika, Anda di luar ruangan. dari luar ruangan, Anda bisa mengagumi bentuk luar ruangan. Anda mengagumi bentuk luar ruangan tersebut. Kemudian, Anda melangkah masuk ke dalam ruangan. Biakah tanpa membayangkan bentuk yang sebelumnya Anda lihat mengagumi tampak luar ruangan tersebut? Jawabannya: ‘Pasti tidak bisa’ Dengan kata lain; ketika anda mengagumi bentuk luar ruangan berarti Anda terpisah dari ruangan tersebut. Mari kita ganti ruangan tersebut menjadi Tuhan, misalnya.

Hal lain yang sering kita tidak sadar adalah ketika kita mengatakan nama Tuhan dengan berbagai sebutan. Tuhan Yang Maha Kasih. Yang Maha Pemurah; Yang Maha Mulia; Yang Maha Suci; dan lain sebagainya. Bukankah semuanya hanya sifat. Bila kita renungkan lebih dalam, hanya benda yang memiliki sifat. Air panas, misalnya. Artinya air yang bersifat panas. Batu keras, batu yang sifatnya keras. Kursi empuk, kursi yang bersifat empuk’ kayu keras atau lunak. So, hanya benda yang memiliki sifat. Sehingga bila kita mengatakan menyembah yang memiliki sifat, kita menyembah benda. Yang mana bendanya? Saya juga tidak tahu. Saya yakin, Anda juga tidak akan bisa menjawab.

Bila Anda bisa menjawab, berarti Anda terpisah dari benda atau apapun itu. Mengapa? Karena hanya dan hanya Anda di luar benda tersebut anda kenal bentuk dan sifatnya. Bila Anda menyatu dengan benda tersebut, Anda tidak mungkin menyebutkan sifat serta bentuk benda tersebut.

So, bukti satu-satunya bahwa anda mengkui adanya Tuhan, hanya dengan jalan melakoni semua sifat yang selama ini Anda dan saya kenal. Tuhan Maha Kasih dan Sayang, misalnya. Anda dan kita semua yang mengakui bahwa Tuhan ada mau tidak mau suka tidak suka harus melakoni sifat Kasih dan Sayang. Bila tidak mau melakoni sifat tersebut berarti mengingkari kemahtunggalan Nya.

Tunggal

Tunggal berarti tiada yang lain kecuali Dia………..

Itu sebabnya para avatar, para suci serta para utusan melihat wajah Tuhan di Barat dan Timur serta dimana-mana. Untuk bertemu dengan Dia, tidak diperlukan melakukan perjalanan jauh. Semakin jauh Anda melaukan perjalanan semakin sulit menemukan Dia. Karena Dia lebih dekat dari urat leher Anda.

Bila anda tidak setuju, silakan lupakan tulisan ini. Ini bagian dari perenungan saya dan untuk saya sendiri…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × four =

Scroll Up