Kesalahan pada Setan

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Inspirasi | Pengembangan Diri No Comments

Kesalahan pada Setan

Ketika sejak dari kecil cara pendidikan melemparkan kesalahan pada setan, maka itu cara atau pola pendidikan kita telah membawa kehancuran bagi keberadaan bangsa secara menyeluruh. Introspeksi diri lebih utama daripada mencari kesalahan pada pihak lain. Bukankah hukum alam berdasarkan sebab-akibat? Ini bukanlah pola pembangunann karakter pada diri sendiri.

Dalam buku Sindhu Samskriti by Svami Anand Krishna, www.booksindonesia.com, dituliskan bahwa ketika seorang anak jatuh, seorang ibu berkata: ‘Lihatlah nak, itu ada seekor semut terbunuh karena terinjak olehmu.’ Tanpa sadar, si anak mencari atau melihat semut yang terbunuh. Dan ia tidak lagi menangis. Pola penanaman kesadaran seperti ini yang diajarkan sejak dini pada seorang anak. Bukan mencari kesalahan pada orang lain, tetapi akibat perbuatan kita bisa menyakiti sesama makhluk hidup.

Dalam tradisi budaya luhur warga bumi, Samskriti Sindhu sebagai suatu peradaban yang dikenal sejak lebih dari 10.000 an tahun lalu menghargai sesama makhluk menjadi prioritas. Pembangunan karakter sebagai tujuan akhir pendidikan (Kebijakan Bhagavad Gita bagi Generasi Y by Svami Anand Krishna) yang bisa mengembalikan kemanusiaan dalam setiap diri manusia.

Keadaan di luar = Kondisi kita 

Kita baru saja membaca berita yang sangat memilukan. Silakan baca ini. Hal ini bukanlah kesalahan si anak semata, tetapi menggambarkan bahwa kita semua sedang sakit. Apa yang terjadi di luar adalah cerminan. Kita ingin keadaan di luar damai, tetapi dalam diri kita sendiri tidak ada kedamaian. Yang terjadi di luar merupakan cerminan yang ada dalam diri kita.

Dalam kasus berita di atas, merupakan puncak kekerasan. Dalam peristiwa-peristiwa harian, kita sering mendengar ketika seorang guru memberikan teguran yang bersifat mendidik, dalam banyak kasus sang guru dipersalahkan. Bahkan pernah kejadian dalam suatu sekolah, si murid mengatakan bahwa ia akan mengadukan perbuatan sang guru pada orang Tanya. Dan orang tua membela si anak, kemudian sekolah menegur pada sang guru.

Pembelaan si orangtua pada si anak tidak membuat si anak menyadari kesalahannya, sebaliknya membentuk pola pikiran si anak merasa benar. Inilah kesalahan fatal dari orangtua.

Cara berpikir si orangtua sangat dipengaruhi oleh sekitar, terutama orangtuanya sejak dini. Kita mau menginginkan kehidupan surga di bumi, tetapi tidak mau membangun kemuliaan dalam diri. Inilah bentuk kemunafikan kita. Munafik berarti melakukan tindakan tidak sesuai dengan keinginan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen + three =

Scroll Up