Istri/suami tidak beda dengan pembantu???

0 Ayur Hypnotherapy | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Mengapa orang merasa begitu sedih?

Karena ia menganggap bahwa badan adalah dirinya. Ia lupa bahwa diri sejatinya bukan lah badan . Badan bisa mati.. Badan adalah bentuk energi. Ketika badan di kubur dalam tanah, ia berubah menjadi bentuk lain. Namanya masih sama . Energi.

Ketidak peduliannya pada lapisan dalam diri yang sesungguhnya abadi menyebabkan ia menjadi sedih. Kesedihan terjadi karena ia tidak peduli pada jati dirinya yang sesungguhnya abadi. Ia  hanya peduli terhadap badan yang tidak abadi. Hubungan keluarga hanya bersifat sementara. Kehilangan keluarga seakan menjadikan dunia kiamat.

Jangan-jangan kita juga tidak sadar bahwa istri/suami yang meninggalkan kita bukan karena kita cinta mereka. Masalah nya selama ini kita sudah memperbudak mereka jadi sopir atau pencari uang saja. Jadi kehilangan mereka, kita menjadi sedih karena hilang seorang yang bisa disuruh menemani kita ke sana dan ke sini.

Hubungan badan ini bagaikan mimpi. Ketika terjaga dari mimpi, baru kita sadar bahwa semuanya sementara dan pasti berlalu. Bukan kah setiap detik sel-sel dalam tubuh kita berubah? Hubungan darah terjadi karena bersamaan lahir dari satu rahim. Tetapi jiwa tidak pernah berhubungan dan memiliki hubungan darah. Karena darah berasal dari segala sesuatu yang tidak abadi. Sementara dan tidak permanen.

Saat kita memejamkan mata, telusuri dengan sadar, apakah kita bergantung pada orang lain untuk merasakan bahagia? Selama ini yang kita sebut bahagia adalah saat memperoleh sesuatu yang kita inginkan. Jika kita tidak mendapatkan yang kita inginkan, kita sedih. Kita masih bergantung pada sesuatu yang tidak abadi untuk membangkitkan kebahagiaan. Kita belum bisa membedakan antara kelegaan dan kebahagiaan…

Pengabaian atau ketidakpedulian pada ‘aku’ yang ada di dalam diri menciptakan ilusi. Ilusi berarti sesuatu yang tidak nyata. Apakah badan atau hubungan dengan saudara nyata? Sementara. Badan juga sementara. Jika badan kemudian di makan cacing tanah, apakah cacing tanah tsb bisa kita akui sebagai saudara?

Memang tidak mudah mengubah mindset. Tetapi inilah kenyataan hidup. Realita kehidupan sesungguhnya kita abaikan. Kita sibuk mengejar kepentingan badan. Segala asesoris yang sesungguhnya bakal ditinggalkan saat badan berpisah dengan ‘aku’ yang ada dalam diri…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 + nine =

Scroll Up