Ketertutupan hati atas penderitaan…

0 Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Ketertutupan hati

Ketertutupan hati adalah ketika tidak peduli dengan penderitaan orang lain. Merasa paling benar kemudian menyalahkan orang lain adalah bentuk rasa ketidakpedulian terhadap orang lain. Bukan merupakan rahasia lagi bahwa banyak dari kita menggunakan atribut atau simbol, bahkan ritual pun bisa digunakan untuk melakukan penjajahan terhadap sesama.

Terhadap sesama manusia saja kita tidak peduli penderitaannya, apalagi terhadap alam semesta. Kita tidak peduli bahwa menebang pohon dengan sembarangan, sesungguhnya kita sedang berbuat kekerasan sehingga mengakibatkan pohon menderita. Tumbuhan tidak bisa melawan, terhadap hewan pun yang tidak rela untuk dibunuh dan dikonsumsi  dagingnya, kita tidak peduli. Berbagai dalih digunakan demi memuja kenyamanan inra pencecap.

Penderitaan yang terjadi di sekeliling kita adalah bentuk ketertutupan hati kita.

Abai terhadap penderitaan

Dalam buku Bhagavad Gita by Svami Anand Krishna, www.booksindonesia.com, dituliskan:

‘Perlukan saya menjelaskan mengana saya berhenti percaya? Karena saya selalu ingin bertanya kapad Tuhan mengapa ia membiarkan adagia penderitaan, kemelaratan, dan ketidakadilan di dunia ini?’ 

Barangkali Ia pun ingin bertanya kapada kita.’

‘Maksudmu?’

‘Bukankah kita membiarkan semua hal tersebut terjadi? Setiap orang di antara kita. Dengan (menutup-a.k) hati dan pikiran kita. Dengan mengabaikan penderitaan orang lain dan menutup telinga terhadap jeritan mereka. Dengan cara merendaban derajat sesama manusia demi kepentingan diri kita semata. Sebagian besar penderitaan manusia dapat dihindari. Namun berjalan pada jalur kebajikan sungguhn mahal. Dan, banyak di antara kita tidak siap untuk membayarnya.’

Penodaan terhadap diri sendiri

Kutipan di atas sangat relevan dengan keadaan di sekitar kita. Demi jabatan pimpinan daerah pun, seseorang dengan senang hati melakukan perbuatan dengan segala cara untuk merendahkan derajat orang lain. Suatu perkataan yang benar bisa dipelintir agar menjadi salah sehingga saingan untuk menduduki jabatan bisa dimasukkan ke dalam sel penjara. Ia dengan menutup hati membuat orang lain beserta keluarganya menderita….

Dengan mengutip sesuatu kemudian diubah seakan menghina suatu kepercayaan yang mayoritas terhasut, seseorang membuat hidup orang lain menderita. Ketertutupan hati terhadap kebenaran yang menguntungkan golongan atau kelompoknya bisa dilakukan. Sesungguhnya tanpa disadarinya, golongan ini sedang memutuskan rantai keterhubungan dengan Dia yang Maha Hidup.

Akibatnya sungguh mengerikan… Golongan ini sedang memutuskan rantai keilahian dalam diri. Golongan atau kelompok ini lebih mengutamakan ketenaran dunia daripada evolusi kesadaran diri. Tanpa disadari oleh mereka juga sesungguhnya mereka sedang melakukan penodaan terhadap dirinya sendiri.

Dengan merendahkan orang lain sesungguhnya kita sedang melakukan penghancuran diri. Inilah keadaan hidup yang amat sangat merugi….

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 − seven =

Scroll Up