Konsentrasi VS Meditasi…

0 Ayur Hypnotherapy | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Banyak orang masih meng-artikan meditasi sebagai konsentrasi. Pada hal ke duanya amat sangat berbeda. Hasil akhir pun akan jauh berbeda. Konsentrasi akan semakin mengikatkan manusia pada dunia. Konsentrasi berarti pemusatan atau fokus. Jika kita fokus pada sesuatu berarti kita meniatkan diri untuk mengikatkan obyek fokus kita.

Sedangkan meditasi tujuan akhirnya adalah kebebasan diri. Inilah moksha. Tentu yang dimaksudkan bebas dari penderitaan. Darimana asal penderitaan? Bila keinginan kita tidak terpenuhi, maka kita menderita. Keinginan untuk merasakan kenyamanan duniawi. Inilah sumber penderitaan, keterikatan terhadap sesuatu yang tidak abadi. Hanya bila kita bisa bebas dari keterikatan kita bisa menggapai kebahagiaan.

Dari ke duanya kita bisa meraba kemana arah tujuan akhirnya. Konsentrasi mengarahkan kita menuju kesuksesan duniawi. Dan ini amat sangat memungkinkan. Perhatikan dan simak tentang Law of Attraction. Mereka menggunakan konsentrasi atau pemusatan pikiran. Dan pemusatan atau konsentrasi atau pun fkus pikiran memiliki kekuatan luar biasa. Dapat dipastikan jika betul-betul bisa fokus atau konsentrasi pada uang, misalnya, banyak yang akan berhasil…

Konsentrasi pada kesaktian atau kedigdayaan, banyak yang bisa hebat. Konsentrasi pada kemampuan untuk menyembuhkan, bisa terwujud. Kekuatan pikiran sangat luar biasa. Namun, jika kita tidak memahami akibat dari penggunaan konsentrasi justru akan merugikan kita sendiri. Inilah keinginan manusia. Keinginan ini dari banyak pengalaman membuktikan membuat orang menderita. Yang meningkat adalah EGO. Merasa diri paling hebat adalah EGO. Selama masih ada EGO, manusia belum memahami tujuan kelahiran.

Dari buku Self Empowerment by Svami Anand Krishna, www.booksindonesia.com :

‘Konsentrasi adalah pemusatan perhatian dan pikiran pada sesuatu obyek, baik abstrak maupun konkret. Meditasi adalah sebaliknya, membebaskan pikiran dari upaya pemusatan.’

‘Dengan kata sederhana, membuyaekan pikiran dari tugasnya berpikir. Lazim dikenal dengan relks, bebas dari ketegangan berpikir. Pikiran pun perlu dikendurkan, bahkan lepas dari aktivitas berpikir.

Dalam keadaan pikiran yang bebas dari aktivitas berpikir, ternyata manusia tidak mati, tidak juga pingsan, dan tetap sadar. Bila selanjutnya kita berjumpa dengan istilah kesadaran, dalam kaitan inilah kesadaran itu dimaksudkan. Tetap sadar, walaupun absen dari kegiatan berpikir, tidak juga pingsan, bahkan tidak tertidur.

Pembuyaran pikiran pada meditasi membuat manusia mulai belajar atau mengupayakan membuyarkan EGO. Ego terbentuk karena kondisioning yang berlangsung lama. Dengan kata lain, pikiran serta perasaan yang disebut mind inilah sesungguhnya sang EGO. Dengan keadaan mind relaks berupaya menguraikan pikiran. Kondisioning manusia terjadi karena terbentuknya synap. Synap – synap ini yang kemudian membentuk ego. Adanya ego ini bisa juga menjadi penghalang atau hijab antara manusia dan Ilahi.

Bisa juga dikatakan bahwa dengan meditasi manusia berupaya keras untuk melampaui hijab atau keterbatasan diri. Bila manusia sering melakukan meditasi, secara alami synap-synap keterikatan akan terurai secara alami. Otak kita semakin mengekrut bila memikirkan terlalu sering pada dunia. Inilah konsentrasi. Konsentrasi pada umumnya memiliki kecendrungan untuk menuju kenyamanan atau pemuasan diri. Baik diri sebagai tubuh atau pikiran.

Pada hal, DIRI yang sesungguhnya bukanlah tubuh bukan pula pikiran/perasaan. Pengupayaan untuk menembus atau melampaui kesadaran pikiran/perasaan maupun tubuh ini membawa manusia menuju hidup secara meditatif. Hidup penuh kesadaran. Sadar akan jati diri manusia sesungguhnya.

Satu catatan menarik adalah banyak dari kita sangat takut untuk meditasi. Wah jika kita relaks dan dalam keadaan pikiran tidak bekerja, jangan-jangan kemasukan makhluk halus. Inilah yang amat sangat salah. Pikiran inilah setan penghalang yang harus dilampaui. Dengan penyerahan diri total, relaks, yang terjadi sebaliknya energi Ilahi yang amat dahsyat melepaskan uraian atau keterikatan synap-synap. Mengapa????

Karena sesungguhnya Sang Jati Diri sendiri bekerja umtuk melepaskan dari penjara keterikatan. Penjara keterikatan bisa lepas atau terurai atas kemauan Sang Jati Diri. Jika masih keinginan kita, ini bukan Sang Jati Diri. Sekali lagi hanya dalam keadaan relaks, maka uraian synap terlepaskan. Inilah aslinya keadaan manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ten + 11 =

Scroll Up