Sunda-Shindu berhubungan? (Suatu Hypotesa) (Bag.2)

0 Inspirasi | Jurnal | Pengembangan Diri No Comments

Mohenjo-Daro kota yang modern

Peninggalan yang ditemukan pada tahun 1921 oleh Alexander Cunningham diindikasi bahwa Peradaban Mohen-jo-Daro telah ada sejak 4500 an tahun yang lalu. Diperkirakan 2600 – 1900 BC.

Peninggalan kota modern berusia 4500 an tahun. Terletak di wilayah Pakistan. Suatu kota yang oleh dikatakan modern. Jalan utama yang lebar dan saluran drainase perkotaan yang bahkan bias dkatakan lebh baik daripada kota Metropolitan seperti Jakarta.

Ventilasi perumahan yang baik membuktikan bahwa masyarakat saat itu sudah sadar akan pentingnya sirkulasi udara dan pembuangan air dari jamban. Mereka telah menggunakan plumbing, instalasi saluran air kotor untuk suatu rumah.

Ini terbukti dari bangunan rumah yang memiliki banyak jendela. Mereka sadar bahwa kesehatan manusia berkait berkaitan erat dengan keteraturan aliran udara. Adanya jendela juga memberikan peluang bagi sinar matahari untuk masuk. Sinar matahari pagi membuat keadaan ruangan sehat dan segar.

Setiap rumah telah memiliki jamban untuk buang air besar dan mandi. Kotoran manusia harus ditempatkan di tempat yang tersembunyi agar tidak menjadi pusat penyebaran penyakit. Masyarakat yang sadar akan kesehatan lingkungan merupakan masyarakat modern.

Mereka sadar akan pentingnya kesehatan lingkungan dan masyarakat. Saluran air atau drainase tempat saluran pembuangan air kotor merupakan bukti kepedulian terhadap bahaya timbulnya penyakit dari genangan air kotor. Mereka sadar bahwa saluran drainase yang buruk berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat.

 

 

Tidak ada tempat ibadah/sembahyang umum

Sesuatu yang luar biasa adalah bahwa mereka tidak memiliki tempat atau bangunan peribadatan bersama. Tampaknya atau hipotesanya, mereka sadar bahwa hubungan dengan Tuhan/Allah atau Sang Pencipta merupakan hubungan pribadi. Tidak butuh dipamerkan. Mereka melakukannya di rumah atau kediamannya masing-masing.

Sadar akan hubungan pribadi dengan penciptanya merupakan kesadaran tertinggi. Pelayanan terhadap sesama makhluk hidup merupakan bukti bahwa mereka sadar bahwa dalam diri setiap makhluk tidak terpisahkan dari Sang Penciptanya. Melakoni hidup berketuhanan merupakan apresiasi terhadap alam semesta atau Tuhan.

Mari kita bandingkan dengan situasi suatu negara maju atau modern saat ini. banyak negara yang maju menunjukkan kesadaran hubungan manusia dengan lingkungan. Hubungan manusia dengan pohon serta bahaya genangan air yang mungkin menjadi sumber penyebaran penyakit. Suatu masyarakat yang memahami bahwa alam dan manusia hidup berdampingan. Keadaan seperti ini yang tampak pada dua kota kuno yang saat ini telah dilestarikan sebagai warisan dunia

Mohenjo-Daro dan Harappa adalah 2 kota yang terletak di Shindu, yang berarti sungai sangat lebar bagaikan laut, Pakistan sekarang.

Darimana asal-usul mereka?

Dalam bukunya:  “Atlantis The Lost Continents Finally Found” , Prof. Arysio Nunes Dos Santos menuliskan:

‘Semua suku bangsa ini sebelumya berasal dari Afrika 3 juta tahun yang lalu, yang kemudian menyebar ke seluruh Eurasia dan ke Timur sampai Auatralia lebih kurang 1 juta tahun yang lalu. Di Indonesia mereka menemukan kondisi alam yang ideal untuk berkembang, yang menumbuhkan pengetahuan tentang pertanian serta peradaban secara menyeluruh. Ini terjadi pada zaman Pleistocene, di mana Pada Zaman Es itu, Atlantis adalah surga tropis dengan padang-padang yang indah, gunung, batu-batu mulia, metal berbagai jenis, parfum, sungai, danau, saluran irigasi, pertanian yang sangat produktif, istana emas dengan dinding-dinding perak, gajah, dan bermacam hewan liar lainnya. Menurut Santos, hanya Indonesialah yang sekaya ini (!). Ketika bencana yang diceritakan diatas terjadi, dimana air laut naik setinggi kira-kira 130 meter, penduduk Atlantis yang selamat terpaksa keluar dan pindah ke India, Asia Tenggara, China, Polynesia, dan Amerika.’

Dan juga:

Dalam bukun The Wisdom of Sundaland, Anand Krishna menuliskan:

‘Gelombang migrasi pertama berkisar 14.000 tahun yang lalu menuju anak benua India. Mereka sedemikian traumanya terhadap banjir di Paparan Sunda sehingga mereka terus bergerak ke utara sampai dihadang sungai besar bagaikan laut, Indus yang megah, atau Sindhu.

Sebetulnya juga sindhu dalam bahasa Sansakerta berarti “laut”. Sungai besar ini merupakan gabungan dari Sungai Sengge dan Gar yang berhulu di Himalaya Tibet mengalir melalui India dan Pakistan, bermuara di Laut Arab.

Rombongan para filsuf, ahli kitab, dan pemikir tersebut memilih satu tempat aman di pinggir sungai dan menamakan sungai itu Saraswati untuk merayakan Dewi pembimbing mereka, Dewi Ilmu Pengetahuan, Seni dan Musik.

Di pinggir Sindhu Saraswati mereka merenungkan apa yang mereka bawa yang merupakan warisan kuno nenek moyang mereka, yang kemudian warisan ini semakin diperkaya dengan inspirasi-inspirasi segar. Jauh di kemudian hari, sejumlah besar ilmu pengetahuan, seni dan musik ini kemudian disistematisasi oleh Begawan Vyasa dalam Kisah Mahabharata, yang juga dikenal sebagai Kitab-kitab Weda (Kebijaksanaan Utama).

Jadi sebetulnya, yang mengawali Peradaban Lembah Indus, atau Sindhu adalah orang-orang Tatar Sunda, dimana reruntuhannya di Mohen-jo-Daro, Pakistan, dan beberapa tempat di India masih sedang diteliti oleh arkeolog dan antropolog dari seluruh dunia.’

Ya, mereka adalah migrasi dari Tatar Sunda….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × two =

Scroll Up