Tidak ada masalah nyata..

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Masalah nyata

Masalah nyata bila tidak dapat diselesaikan sepanjang kehidupan. Dan ini terjadi bila kita mau belajar tentang diri sendiri. Sedangkan masalah sehari-hari bisa diselesaikan. Karena yang terjadi adalah perubahan. Hanya orang yang tidak mau mati menghadapi masalah sepanjang hidup.

Ya, mungkin anda bingung. Saya juga bingung. Namun ketika saya renungkan, sesungguhnya kita setiap hari harus mati, barulah kita bisa hidup. Tanpa mematikan masa lalu, kita tidak pernah hidup. Masa lalu adalah kematian. Kematian bagi pemikiran yang tidak move on.

Adanya kematian pikiran tentang semua peristiwa yang membuat kita terjebak di alam tidak nyata, baru kita hidup. Hidup berarti harus bisa menghidupkan orang lain. Urip iku urup. Hanya di saat inilah kita hidup karena hanya di saat inilah ada napas. Tidak seorang pun bisa menirukan irama napas satu detik yang lalu. Apalagi kemarin.

Sumber Kekacauan

Sumber permasaaah di seluruh dunia adalah satu dan sama. Keserakahan. Inilah yang pernah dikatakan oleh Mahatma Gandhi; ‘Dunia ini bisa memenuhi kebutuhan semua orang, tetapi tidak bisa memenuhi keserakahan satu orang.’ Ini bukan masalah nyata, karena bisa diselesaikan. Hanya kemauan untuk berubah yang dibutuhkan. Kemauan untuk berubah inilah masalah nyata. Karena kita lakukan sepanjang hidup.

Mari kita simak video Anand Krishna dibawah ini:

Dari zaman dahulu sampai jaman now, segala masalah timbul dari submer yang satu ini: Keserakahan. Jika mau memperbaikinya, jangan harapkan dari orang lain. Dan inilah masalah nyata; masalah yang harus diupayakan untuk diselesaikan sepanjang hidup. Bisa diatasi hanya dan bila kita sadar akan jati diri. Mari kita buka lemari kita, dan lihatlah bahwa begitu banyak yang sesungguhnya kita tidak butuhkan telah kita beli.

Keinginan

Keinginan ini timbul hanya sekejap. Tetapi bila kita tidak segera sadar, kita akan diperbudak oleh keinginan. Misalnya, suatu ketika kita jalan melewati mall atau toko. Tanpa sengaja kita membaca iklan bahwa pada mall tersebut ada diskon besar. Otomatis kita mampir. Bagaikan ada tarikan magnit. Inilah magnit keserakahan.

Begitu melihat kerumunan banyak orang, kita semakin tertarik. Kita bagaikan terhinopsis. Kemudian kita ambil dan beli. Bukan karena butuh, tetapi lebih karena sedang diskon. Mungkin kita dulu sudah beli, dan ada di rumah. Kemudian karena surah, kita beli lagi. Padahal barang sejenis bisa saja jarang atau bahkan belum pernah dipakai. Dulu, kita beli karena mengikuti trend. Inilah keinginan yang ujungnya menjadi keserakahan. Bukan beli karena butuh, tetapi karena murah atau ikuti teman-teman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen − two =

Scroll Up