Cincang habis Tuhan, dan bebaslah kita….

2 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri 2 Comments

Tulisan ini terispirasi oleh film The Maize Runner bagian 1. Dalam cerita tersebut, sekelompok orang dimasukkan dalam suatu labirin. Setiap orang yang masuk dalam labirin tersebut pasti lupa dengan identitas dirinya. Setelah 3-4 hari kemudian, baru mereka ingat akan jati dirinya. Ada makhluk yang membuat orang ketakutan dalam labirin tersebut. Makhluk tersebut memiliki sarang yang dijaga olehnya dengan sangat ketat.

Dapat dipastikan semua orang ingin keluar dari labirin tersebut. Berbagai jalan dicari, namun tetap saja sulit ditemukan jalan keluar ke alam bebas. Pada akhirnya, ada seseorang yang berupaya mengalahkan si makhluk buas yang sangat ditakuti. Dan dengan gagah berani, seseorang berhasil membunuh makhluk tersebut. Ternyata, pintu keluar ke alam bebas berada di dalam sarang si makhluk bas tersebut. Akhirnya mereka semua selamat keluar dari labirin tersebut.

Kita semua pun demikian. Dalam dunia ini sepertinya kita telah menggapai kesuksesan. Segala harta benda kita miliki. Uang kita puluhan bahkan ratusan triliunan. Segala tempat di pelosok dunia kita kunjungi. Segala makanan dari yang murah sampai yang paling mahal kita cicipi. Tetapi, kita masih saja di dunia yang sama dengan mereka yang tidak punya uang. Belum bebas dari genggaman sang pikiran. Labirin kehidupan.

Kita bersama-sama hidup di dunia yang bagaikan labirin. Tiada jalan keluar dari dunia ini. Saat kita lahir di bumi ini, kita semua telah lupa jati diri sejati kita.

Kita tersbukkan oleh urusan dunia. Kita pikir atau anggap, dunia dengan segala kenyamanannya adalah rumah kita. Benarkah demikian?

Tubuh memang lahir di dunia dan tumbuh kembang dengan segala sesuatu ang berasal dari alam atau bumi ini. Ketika tubuh belum ada, dari mana janin mulai muncul? Siapa yang mengisi janin, jiwa tentunya. Janin tumbuh semakin besar dengan bahan baku benda dunia. Dalam keseharian kita menggunakan pikiran. Untuk mengekspresikan pikiran, kita butuh alat atau perangkat keras. Itulah otak. Otak tidak abadi. Gugusan pikiran serta perasaan butuh otak untuk berproses.

Saat tubuh mati, otak juga berhenti berdenyut. Karena otak adalah bagian dari tubuh. Namun, mind atau gugusan pikiran serta perasaan tidak lenyap dengan sendirinya. Mind terbentuk dari pikiran yang bersifat bendawi. Oleh karenanya, ia juga bersifat materi, walaupun materi yang sangat halus. Sehakus apapun, ia harus terurai kembali ke asal nya, bumi. Pembentukan mind atau gugusan pikiran serta perasaan terjadi karena adanya katalisator, jiwa. So, inti dari semuanya adalah jiwa yang tiada seorang pun tahu. Sang Maha Jiwa Agung bersinar, dan sebagian sinarnya membuat atau menyatukan tubuh manusia dengan perlengkapan mind. Di alam jiwa, mind ini tidak bisa eksis. Karena ia masih berkaitan dengan alam benda atau prakirti.

Agar sang jiwa bebas menyatu dengan Sang Maha Jiwa Agung, ia mesti bebas dari labirin dunia. Pertanyaannya: ‘Dimana pintu keluarnya?’

Selama kita hidup dari bayai sampai dewasa, kita sellau saja ditakuti oleh sosok yang disebut Tuhan. Pada hal, tiada satupun yang tahu, apa dan jenis bagaimana yang kita sebut Tuhan.

Kita hanya terima warisan kata, Tuhan itu yang menciptakan dunia dengan isinya. Sebagaimana si sosok makhluk yang mengerikan dalam film The Maize Runner, kita takut pada Tuhan. Jika kita melakkan ini dan itu, kita dihukum oleh Tuhan. Sebegitu mengerikan sosok yang diciptakan sehingga kita mau terima saja bahwa Tuhan itu begini dan begitu.

Kita lupa akan pesan para suci atau avatar. Mereka bisa menembus labirin dunia ketika mereka menyadari bahwa Tuhan dan diri mereka tidak ada keterpisahan. Ketakutan terhadap Tuhan terlampaui. Konsep Tuhan tiada lagi, saat itu terjadi penyatuan atau kemanunggalan. Siapa pencipta istilah atau konsep Tuhan?

Pikiran. Ya, Tuhan pikiran lah yang selama ini kita takuti. Dan ketika kita ingin menembus pintu labirin, si pikiran selalu saja menciptakan ketakutan. Dia lah tuhan yang kita sembah selama ini. Pada hal, ia juga ciptaan kita sendiri.

Bunuh dan cincang habis si tuhan pikiran, maka kita pun bebas dari labirin dunia. Labirin berupa jalan tiada habisnya. Bukankah labirin pikiran kita juga begitu? Maunya haus akan kenyamanan bendawi. Saat kita ikuti terus dan terus, kita semakin begitu terikat pada kenikmatan dunia, labirin.

Sosok makhluk pikiran yang mengerikan, pikiran, terbunuh, saat itu kita bebas keluar ke alam Sang Maha Jiwa Agung. Dan kemanunggalan pun terjadi. Bunuh dan cincang habis si tuhan pikiran jika ingin menggapai kebebasan abadi…


  1. Setyo - Januari 3, 2018

    Kenapa kita tidak boleh berterima kasih kepada dunia materi, bkn kah itu energi ciptaan Nya, lantas bagaimana kah makna keseimbangan itu, pertanyaan ini atas dorongan kesadaran, mhn pencerahan nya pak.terima kasih

    • Silakan berterima kasih. Yang jika anda mau re-union dengan Maha Sumber adalah keterikatan pikiran thd dunia benda.
      Keterikatan ini jadi penghalang reunion antara jiwa individu dan Sang Mahasumber Agung.
      Justru seharusnya kita berterima kasih pada semua materi. Seperti anda punya mobil atau motor. Ucapkan terima kasih pada motor/mobil dan sayangi mereka. Dengan cara ini ada interaksi positif antara keduanya.
      Ttg apa itu keseimbangan ada pada alinea ke dua tulisan terbaru saya.
      Terima kasih komentar nya
      Rahayu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 − ten =

Scroll Up