Jati Diri bukanlah jadi Super Hero…

2 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri 2 Comments

Seseorang yang melakukan tapa atau latihan mencari Jati Diri. Bahkan seseorang yang sudah berlatih lama masih bertanya: ‘Mengapa saya belum menembus Diri Sejati???’

Saya tersenyum. Jika seseorang sudah menembus Jati Diri, ia sudah tidak doyan nasi lagi. Dan ketika seseorang sudah menembus Jati Diri sudah tidak lagi bisa berkata, ‘Wah saya sudah sampai jati Diri.’ Mengapa?

Apa yang dimaksudkan dengan Jati Diri?

Memahami hakekat Diri tepatnya. Dengan memahami kemudian kita mulai menyadari. Kesadaran tentang Jati Diri ini yang utama. Dengan menyadari hakekat diri baru kita bisa hidup sebagai manusia biasa. Lha koq? Ingat apa yang selalu disampaikan nabi Isa? ‘Aku anak manusia’

Ya, kita harus selalu ingat bahwa kita anak manusia. Dengan demikian, kita selalu mengedepankan kemanusiaan dalam diri kita. Semakin tebal rasa kemanusiaan semakin sadar kita akan hakekat diri kita. Apa indikasi seseorang yang sadar akan Jati Diri nya?

Seseorang yang sadar akan jati dirinya tidak hebat seperti super hero. Punya kekuatan luar biasa atau terbang seperti Hulk atau Superman. Bukan kah kita sudah tahu bahwa para avatar atau para suci tidak seperti super hero yang sering kita lihat di televisi atau layar lebar? Para suci dan avatar sadar akan hakekat dirinya. Hakekat diri inilah Pengetahuan Sejati. Apakah pengetahuan Sejati?

Pengetahuan Sejati adalah tahu atau sadar bahwa diri sejati kita bukanlah badan, bukan pikiran, bukan perasaan. Selama ini kita menderita karena selalu mengidentikan diri kita sebagai tubuh, pikiran serta perasaan. Dalam tataran itu, kita selalu berada di area dualitas. Boleh saja tetap di dunia, tetapi pola pandangan kita yang berada di ranah jiwa/spirit. Di level ini kita bisa melihat kesatuan dan persatuan.

Hakekat Diri

Memahami hakekat diri kita tidak hidup dalam keinginan ilusi. Kita hidup dalam wilayah kebutuhan. Butuh beda dengan ingin. Seseorang yang butuh minum, ia minum karena haus. Ia sadar bahwa makan untuk hidup. Bukan hidup untuk makan. Ia hidup secara moderat, tidak berlebihan. Inilah pengendalian diri. Bisa saja ia hidup di dunia benda, namun pikirannya selalu tertuju pada Keilahian dalam dirinya.

Ia hidup untuk mempersembahkan tubuh, pikiran serta perasaannya untuk melayani sesama. Ia selalu menerapkan prinsip: ‘Jika tidak mau disakiti janganlah menyakiti.’ Ia melihat wajah Allah di barat, di timur, dan dimana-mana. ia tetap melakukan kegiatan sehari-hari seperti kita yang belum sadar akan jati dirinya Namun wajahnya bersinar, bercahaya sebagai efek rasa kebahagiaan. Kebahagiaan yang berasal dari kebebasan purna. Bebas dari keterikatan alam benda.

Itulah upaya kita yang masih angong selama hidup….

So, jangan berharap bisa menembus Diri sejati selama belum bisa bebas dari keinginan inedrawi. Hidup di dunia yang sama, tetapi cara pandang dan berpikir yang berbeda. Mereka berorientasi pelayanan terhadap sesama makhluk hidup, kita berorientasi kenyamanan tubuh atau inderawi. Inilah perjuangan kita selama hidup di dunia. Koq sok menasehati, memangnya kamu sudah sampai tahap itu???

Bukankah seorang bapak juga bisa memberikan nasehat pada anaknya yang merokok, ‘ Nak janganlah merokok. Lihatlah bapakmu ini kesehatanku kurang baik karena belum bisa berhenti merokok.’ Ya, walaupun si bapak belum bisa berhenti merokok, ia masih berupaya, namun bukan berarti ia tidak boleh memberikan nasehat. Si bapak berupaya terus untuk berhenti dan mencapai yang diinginkannya.

 

Sebagian lagi mempersembahakan seluruh kegiatan indra; dan bahkan seluruh tindakan Prana, atau hidupnya ke dalam api Yoga Pengendalian Diri, yang dinyalakan oleh Pengetahuan Sejati.

(Bhagavad Gita by Anand Krishna, www.booksindonesia.com)

Melalui buku inilah kita bisa memahami tentang Pengetahuan Sejati. Ya, Pengetahuan Sejati adalah pengetahuan tentang Diri, Itulah jiwa. Dengan menyadari hal ini, kita bisa mulai mengendalikan diri. Pengendalian diri bukan lah penafikan. Pengendalian diri berarti membuat kita sadar akan kebutuhan Jiwa. Jiwa tidak ingin makanan merusak tubuh.

Kebutuhan Jiwa adalah tubuh yang sehat. Tubuh yang sehat berarti makan jenis makanan yang dibutuhkan untuk menunjang perkembangan jiwa menuju kemuliaan. Kesadaran bahwa diri kita suci berarti memasukkan makanan yang berguna untuk menunjang evolusi batin. Perjalanan jiwa menuju Sang Jiwa Agung.

Jenis makanan yang berguna bagi evolusi batin

Makan jenis yang tidak membuat kita memiliki amarah, irihati dan dengki ataupun serakah. Misalnya, makan daging bukanlah makanan yang berguna untuk menunjang kemuliaan jiwa. Mereka yang sadar akan hakekat diri tidak mau lagi makan daging. Selain merusak kesehatan juga kita menikmati kenyamanan lidah dengan mengorbankan hidup makhluk hidup lainnya. Bukan kah mereka yang sadar akan kemanusiaan dirinya memiliki prinsip: ‘Jika tidak disakiti jangan lah menyakiti lainnya, termasuk hewan.’

Pemeliharaan kesehatan tubuh pun bertujuan agar dapat terus melayani sesama manusia. Beda dengan kita. Kita ingin sehat agar bisa dugem. Bisa ini dan itu yang bertujuan kenyamanan tubuh atau panca indra.


  1. jati diri keluar karna menjadi diri sendiri dan akhirnya menimbulkan kesadaran yang didorong oleh jiwa itu sendiri..jika semua sudah didasari oleh dorongan jiwa,maka cenderung memiliki kasih yang luar biasa,apapun yang dilakukan hampir semua dimotivasi dari rasa kasih terhadap apapun itu,jika mendapatkan sesuatu yang mirip superhero itu hanyalah sebuah bonus senjata untuk mewujudkan kasih tersebut..ini hanya opini ku saja sih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen − four =

Scroll Up