Kewajiban manusia lahir bukanlah untuk mengembangkan dunia dengan segala atribut serta asesorisnya. Kelengkapan serta pernak-pernik dunia hanya berlaku bagi yang belum memahami tujuan kelahiran. Kita harus tahu mengapa manusia harus lahir di bumi.

Adalah kerugian besar jika kita belum memahami tujuan kelahiran atau keberadaan di bumi. Inilah sebabnya mengapa salah seorang utusan Nya menyampaikan bahwa manusia sesungguhnya dalm keadaan merugi. Kerugian atau kehilangan harta benda berarti keuntungan bagi kemuliaan jiwa, bagi mereka yang sadar akan tujuan keberadaannya di bumi.

Buku Meditasi dan Yoga Terbaik

  • Dapatkan Buku Meditasi Terbaik Untuk Pemula [Beli Buku]
  • Dapatkan Buku Yoga Terbaik Untuk Pemula [Beli Buku]
  • Dapatkan Buku Yoga Sutra Patanjali [Beli Buku]

Dalam perjalanannya di bumi, manusia dilengkapi dengan tubuh. Tanpa tubuh tiada artinya keberadaan manusia di muka bumi. Jangan sakiti dan hujat tubuh ini. Tubuh bagaikan kapal atau wahana untuk mengarungi samudra kehidupan. Oleh karena itu agar kapal dapat berlabuh dengan sukses, semua beban haruslah dibuang ke samudra saat mengarunginya.

Ada 10 pintu atau wahana yang bisa menjadikan beban kapal/tubuh kita terbebani selama mengarungi samudra kehidupan (Dvipantara Yoga Sastra by Anand Krishna, www.booksindonesia.com)

  • 2 mata
  • 2 lobang hidung
  • 2 lobang telinga
  • mulut
  • satu dubur
  • organ seks

Yang ke sepuluh berada di ubun-ubun. Celah tersebut merupakan celah untuk keluarnya jiwa individu dalam rangka penyatuan dengan Sang Maha Jiwa Agung. Agar upaya saat kematian tiba, keluarnya sang jiwa individu mesti mulus. Kita bisa melatihnya selama hidup di dunia ini.

Yang sengsara adalah bila beban pikiran semakin berat. Untuk keluar melalui celah ke 10 akan sangat menyakitkan. Ibaratnya lobangnya amat kecil, tetapi muatan yang akan lewat besar oleh muatan yang padat.

Apa yang membuat padat?

Pikiran yang terisi oleh masalah kebendaan atau duniawi. Kualitas pikiran ¬†terlalu sarat dengan benda dunia menjadikan pikiran sangat padat. Inilah sebabnya juga seseorang terlahirkan kembali. Kualitas pikiran bermuatan bendawi memiliki kecendrungan memiliki gravitasi bumi. Tak pelak lagi, jiwa tetap terjebak di dalam pikiran. Akhirnya……. lahir kembali ke bumi. Perjalanan ke dimensi lainpun tertunda. Inilah permainan alam.

Saat kita berada di dunia sekarang ini sebagai akibat saratnya muatan kapal. Marilah kita mengurangi muatan pikiran atau emosi perasaan saat ini. Ada dua jenis muatan dalam kapal tubuh/pikiran kita saat ini.

Yang pertama adalah muatan dari kehidupan masa lalu. Muatan awal inilah penyebab utama keberadaan kita di bumi ini. Karena ketidaktahuan kita, kita tidak segera mengurangi beban awal. (Apakah ini bisa dikatakan dosa asal???) Silakah direnungkan sendiri.

Karena keadilan Dia Sang maha Adil, kita semua ‘seakan dilahirkan bagaikan kertas kosong’ Ingat ya: ‘seakan’. Padahal sesungguhnya kita telah membawa beban masa lalu.

Seal yang kita semua sangat beralasan. Bayangkan jika kita bisa ingat masa lalu, bisa kacau balau dunia. Kita akan melihat saudara sekandung kita sebagai musuh masa lalu. Kita bisa melihat ibu kandung kita sebagai kekasih kita kehidupan masa lalu. Inilah sebabnya, kuasa Tuhan atau alam menutup ingatan kita dari segala memori masa lalu.

Di sisi lain, kita juga lupa bahwa kita dilahirkan untuk membuang beban atau muatan yang ada di pikiran kita. Alih-alih membuang, karena sifat manusia yang pelupa, kita bukannya membuang, tetapi malahan menambah beban. Kemelekatan atau keterikatan kita terhadap benda duniawi memperberat beban kapal/tubuh kita.

Bersihkan ke 9 lobang dari pengaruh keterikatan dunia, maka saat kematian tiba, jiwa atau pun roh dengan mulus lewat pintu ke 10.