Percaya Surga/Neraka? Bukti tidak percaya Tuhan…

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

It’s true !!!!

Surga adalah tempat bagi orang baik

Neraka adalah tempat bagi orang jahat

Itu kata manusia. Mungkin… Dan pasti ada yang membantah, kata nabi. Kamu ga percaya dengan kata nabi, berarti kamu kafir…

Sederhana jawabnya, memang nabi bukan manusia? Tadi dikatakan bahwa ‘kata manusia’…

Ketika konsep surga/neraka diberikan dan orang melakukan sesuatu hanya karena tujuan mendapatkan surga berarti ia tidak yakin terhadap perbuatan baik yang dilakukan semata untuk kebaikan dirinya sendiri. Sesungguhnya segala perbuatan baik semata untuk kebaikan manusia itu sendiri (Al Israa ayat 7). Bukan untuk Tuhan bukan untuk alam bukan untuk manusia lainnya.

Ketika melakukan perbuatan baik dengan sadar, otaknya terbuka dan terjadi aliran energi semesta ke dirinya. Semua organ tubuh bekerja dengan normal. Bahkan lebih baik. 70 persen dari tubuh terdiri dari air. Menurut penelitian masaru emoto, air memiliki daya rekam tinggi. Saat berbuat baik berarti cairan tubuh kita merekam kebajikan. Dan hasilnya pikiran dan tubuh normal dan bahkan optimal kinerjanya. So, manfaat sudah kita peroleh terlebih dahulu saat kehidupan badan ini.

Peneliti yang juga seorang Jepang, Hiromi Shinya, melakukan penelitian tentang manfaat enzym. Kesimpulannya juga sangat mirip dengan hasil penelitian Masaru Emoto. Pikiran baik dan selalu bersyukur mengakibatkan produksi enzym berjalan dengan baik. Enzym adalah zat berupa cairan yang sangat membantu metabolisme tubuh.

Adalah Shigeo Haruyama yang membuktikan keajaiban endorphin. Dalam penelitiannya terbukti bahwa pikiran yang murni baik akan menghasilkan beta endorphin yang memberikan efek bagi peningkatan kesehatan bagi tubuh manusia.

Benarlah yang disebutkan oleh ayat 7 surat Al Israa bahwa kebaikan yang dilakukan oleh manusia sesungguhnya demi kebaikan manusia itu sendiri. Tidak perlu harapkan pahalau surga…

Kita percaya dan yakin terhadap adanya Tuhan. Namun selama tidak percaya pada diri sendiri berarti sama saja tidak percaya Tuhan. Koq bisa?

Mari kita renungkan. Badan dan seluruh anggota tubuh serta pikiran ini adalah ciptaan Tuhan. Termasuk pikiran kita. Jika terhadap ciptaan tuhan, yaitu diri kita saja tidak percaya, bagaimana mungkin kita percaya kepada Tuhan? Pertama-tama yakin keberadaan ciptaan Tuhan paling dekat, diri sendiri. Cintai ciptaan Tuhan, diri sendiri. Dengan berbuat baik terhadap ciptaan Tuhan berarti menyayangi tuhan. Caranya pelihara dan lindungi badan ciptaan Tuhan dengan berpikir, berkataan dan berbuat baik

Berbuat baiklah semata untuk kebaikan sendiri. Jangan berbuat baik untuk dapatkan surga. Berbuat baik untuk kebaikan diri sendiri berarti percaya keberadaan Tuhan. Sedangkan berbuat baik untuk tujuan surga berarti bukti ketidak percayaan terhadap Tuhan. Jika kita yakin dan percaya Tuhan maha adil, pasti kita percaya tool pengukur perbuatan baik dan buruk. hukum sebab-akibat. Dalam semua kitab suci sudah disebutkan tool itu.

So, tidak perlu menunggu keadilan besok setelah meninggal badan. Kita sendiri saat ini juga sudah tahu bahwa tool itu sudah bekerja. Bukan besok saat hari pengadilan. Hari pengadilan sudah mulai bekerja saat ini. Jika kita percaya bahwa hari pengadilan itu besok saat setelah kematian berarti kita tidak percaya Tuhan.

Karena hukum Tuhan, sebab-akibat, sudah bekerja saat kita melakukan perbuatan. Paradigma ini yang mesti diubah. Saat inilah hukum keadilan bekerja. baik dibalas baik. buruk dibalas buruk. Bagaimana mungkin Tuhan harus menunggu hari kiamat? Hanya akal-akalan kita sendiri yang kita perturutkan agar kita bisa bebas melakukan kejahatan di bumi.

Dengan menganggap Tuhan jauh disana sesungguhnya kita sedang menipu Tuhan bahwa kita bisa berbuat kejahatan semaunya. Dengan alasan Tuhan maha pemaaf. Kejahatan saya di satu tempat bisa dikompensasi dengan berbuat kebaikan di tempat lain.

Ahhh!!!!… kita telah memperkosa Tuhan. Kita telah memperkosa hak tuhan. Kita mengatur Tuhan sesuai keinginan kita. Kita pikir bahwa perbuatan kejahatan bisa dikompensasi denga rajin sembahyang. rajin berderma. rajin bersedekah. Memang siapa kita? Beraninya mendikte Tuhan.. Inilah konsep pikiran kita selama ini.

Kita telah percaya para calo agama yang sering bertindak atas nama Tuhan. Kita telah terhipnotis para calo agama yang menggunakan lembaga agama untuk mencari umat. Kita berdosa besar jika mempercayai bahwa hanya para calo agama yang bisa berhubungan dengan Tuhan.. Kita telah menggadaikan jiwa kepada selain Tuhan. Kita tidak percaya kepada diri kita sendiri, yang berarti tidak percaya kepada Tuhan…

Semoga kita diberkahi oleh Tuhan dengan pertama percaya pada diri sendiri. Diri kita inilah ciptaan Tuhan. Percaya diri sendiri berarti kita percaya Tuhan. Diri kita bisa berbuat baik semata untuk kebikan diri sendiri…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twenty − two =

Scroll Up