Adakah benda mati???

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Saat pertanyaan ini muncul, banyak orang akan segera menjawab: ‘Banyak…. Lihat di sekitarmu, ada kursi, motor, mobil dan lain yang tidak bisa bergerak sendiri seperti hewan, tumbuhan, dan manusia.’

Benarkah?

Setiap benda mati dan hidup menurut pandangan mata sesungguhnya terdiri dari atom. Para ilmuwan menyatakan bahwa atom terdiri dari neutron dan elektron yang senantiasa bergerak. So, adakah yang mati jika semuanya terurai dari atom yang senantiasa bergerak?

Menyadari hal ini, beberapa hal yang menarik bisa terjadi di sekitar kita jika mau menggunakan pengetahuan ini. Ada beberapa pengalaman menarik, baik dari pengalaman pribadi maupun dari cerita beberapa teman termasuk klien saya.

Ada seorang klien saya berkata bahwa ia dulu bekerja sebagai teknisi generator di suatu pabrik. Sebelum bekerja ataupun saat usai bekerja, ia selalu menyapa generator atau genset. Menurut kita, pasti anak ini gila. Masa benda mati diajak bicara, menurut kita benda mati. Orang tersebut melakukan secara instink. Mengapa saya katakan secara instink?

Karena ia tahu jawabannya setelah mengikuti terapi dengan saya. Ia bercerita bahwa selama sebagai operator genset, ia selalu berkata: “Jangan rewel ya. Kita bekerja bersama agar tidak merepotkan aku.” Realitanya, sepanjang ia bekerja sebagai operator, sahabat kerjanya, si genset jarang sekali rusak.

Namun, setelah ia pindah bagian, karena harus rotasi, ia mendengar kabar bahwa genset yang dahulu dioperasikan olehnya, selalu mengadat dan rusak. Setelah mendengar yang saya sampaikan bahwa tiada benda yang mati, ia menceletuk: ‘Wah benar pak. Ini saya alami dahulu sewaktu saya bekerja sebagai operator genset.’

Cerita lain lagi. Suatu ketika saya melihat di tayangan tv. Seorang pembalap terkenal yang sering menjadi juara, sebelum menjalankan mobil balapnya, atau mungkin setiap hari, ia selalu memeluk mobil balapnya. Ia berkomunikasi pada mobilnya, dan mengatakan kata-kata yang penuh kasih sayang. Saat melarikan mobil balap di arena balap, ia bisa merasakan kesatuan antara mobil dan dirinya. Hasilnya, ia sering menjuarai arena balap.

Demikian juga yang saya alami. Saya memiliki suatu rumah. Suatu ketika rumah saya kontrakkan karena saya dan keluarga harus pergi tugas belajar. Begitu saya kembali, ternyata banyak kerusakan pada rumah saya. Karena saya akan menempatinya kembali, perbaikan pun dilakukan.

Beberapa tahun kemudian, rumah kembali saya tinggalkan karena pindah di tempat lain. Namun, kali ini saya tidak mau menyewakan. Saya biarkan kosong. Ternyata rumah tetap utuh dan jarang sekali rusak bahkan tidak pernah.

Dari sini saya belajar, ternyata energi antara rumah dan si pemilik ada kesinambungan. Seakan rumah berjiwa dan tahu ketika si pemilik menyayanginya. Dan sebagai balasan atau resposnnya, si rumah jarang rusak. Ada kesinambungan energi antara si pemilik dan rumah. Jika ga percaya, silakan dibuktikan. Ini bukan syirik. Ini masalah energi, dan energi tidak mati. Gelombang keinginan saya, terpancar memalui pikiran. Sinyal pikiran tertangkap oleh rumah yang sesungguhnya juga energi. Bukan kah materi adalah energi yang terpadatkan?

Cerita terakhir berasal dari mahasiswa yang ikut terapi dengan saya, www.marhento.com Ia bercerita bahwa ia banyak pengeluaran karena motornya seringkali rusak.

Saya sampaikan bahwa saat mencuci atau membersihkan motor, ajaklah bicara. Katakan bahwa anda menyayangi motornya. Karena sebagai sahabat, katakan pada motor agar tidak sering rusak. Hasilnya?

Setelah beberapa hari ia melakukan yang saya sarankan, si motor jarang rusak. Namun juga tidak boleh teledor. Pemeliharaan rutin tetap dilakukan secara rutin sebagai bentuk atau ungkapan rasa kasihnya. Bukan kah rasa kasih bisa berupa rasa penuh perhatian terhadap motor?

Energi…….

Itulah yang pernah disampaikan oleh Albert Einstain…

We are unified by The Field of Energy

Ya, kita disatukan oleh medan energi yang satu dan sama……

Saat kita melakukan tindak kekerasan terhadap orang lain, sesungguhnya kita sedang melukai diri sendiri…

Hal ini juga dikatakan dalam suatu kitab suci:

‘Ketika kau melukai satu orang, sesungguhnya kau sedang menciderai seluruh manusia.’

Kita hidup saling membutuhkan dengan alam…

Bahkan sesungguhnya, alam tidak membutuhkan kita. Namun, kitalah yang membutuhkan alam untuk bertahan hidup. Mengapa kita tidak bisa mengasihi dan menyayangi alam semesta???

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen − 5 =

Scroll Up