‘Aku’ berbuat baik? Mungkinkah???

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Jika yang mengatakan belum bisa mengidentikan diri sebagai sesuatu yang lebih tinggi alias masih pada lapisan kesadaran tubuh, hal ini mudah dipahami. Dan dengan pasti dikatakan bahwa ini bisa. Tetapi bila mereka yang mengajukan pertanyaan adalah yang sudah memahami bahwa manusia terdiri dari beberapa lapisan kesadaran, dengan pasti akan menjawab bahwa hal ini tidak mungkin.

Saat seseorang menyatakan diri bahwa yang penting hidup di dunia ini adalah berbuat baik; ‘Pokoknya berbuat baik!!!’, dapat dipasikan yang menyatakan adalah mind atau gugusan pikiran dan perasaan. Padahal, mind bukanlah jati diri sejati. Dengan demikian, sesungguhnya yang menyatakan bahwa yang penting hidup di dunia adalah berbuat baik adalah si ego atau mind ataupun gugusan pikiran. Mind bukanlah sejati diri manusia. So, kita belum tuntas memahami diri sejati. Dengan kata lain kita belum memahami yang disebut pengetahuan sejati.

Hanya sebatas tahu mengenai pengetahuan sejati juga tidak bisa melampaui mind. Kita masih saja suka bermain di ranah penumpukan pengetahuan. Belum sampai pada tahap melakoni pengetahuan sejati. Berbagai pengalaman membuktkan bahwa bila bisa melakoni pengetahuan sejati, kita bisa terbebaskan dari penderitaan. Inilah tahap kebahagiaan sejati. Ranah kebahagiaan sejati bukanlah monopoli para suci atau utusan atau avatar. Kita semua memiliki hak yang sama. Yang dibutuhkan hanya menyadari dan membuka diri bahwa rasa bahagia sejati merupakan bawaan dalam diri manusia. Tidak perlu dicari.

Sadari bahwa sejatinya manusia bahagia adanya. Membuka diri menerima aliran energi kebahagiaan yang ada dalam diri menjadikan diri sebagai pelita. Tidak satupun pelita di luar diri bisa menerangi kita. Para master sejati hanya menunjukkan cara bagaimana metode mengakses kesejatian atau kebahagiaan diri. Kita yang melakukan. Tidak ada laku yang sulit. Kenyamanan tubuh yang diutamakan. Sangat diharamkan melakukan kekerasan terhadap tubuh sendiri. Tuhan lebih dekat dari urat lehermu. Jika tidak ada keterpisahan berarti tubuh ini adalah miliknya. Bertindak kekerasan terhadap tubuh berarti melakukan penyiksaan terhadap Dia.

Lakukan perbuatan baik karena itulah sifat sejatimu. ‘Do good because you are good.’ (The Gospel of Mahamaya by Anand Krishna, www,booksindonesia.com). Tepat sekali !!!!! Kebaikan itulah sejati diri manusia. Isya adalah bagian dari manusia. Isya atau ‘sia’ bagian kata kedua dari manu-sia. Inilah penyekit kita semua…….

Manas atau manu dari kata pertama manu-sia berarti mind, pikiran; di depan seakan menunjukkan bahwa kita lebih mengedepankan pikiran daripada Isya atau keilahian atau sifat baik/mulia. Dalam segala hal kita mengutamakan pikiran dan tubuh. Kita senantiasa melihat ke luar diri. Amat sangat jarang kita melihat kedalam diri.

Dalam terminologi Islam disebut muraqabah atau mendekatkan diri kepada Dia. Bagaimana mendekatkan diri kepada Dia? Tiada jalan lain hanya menutup mata dan temuilah Dia yang lebih dekat dari urat lehermu. Dalam terminologi Katholik atau Kristen disebut ‘metanoia‘. Inilah makna seseotrang ketika menyatakan diri ber ‘taubah.’ Taubah berarti tobat. Jika sudah tobat yang jangan melakukan lagi. Tobat bermakna kesadaran bahwa segala yang di luar diri adalah maya. Kita tertipu akan dunia ilusi sehingga kita lupa kesejatian yang ada dalam diri sendiri.

Terangi diri sendiri. Tidak perlu memproklamirkan diri bahwa kita menerangi orang lain. Seandainya orang lain mendapatkan manfaat dari lampu yang kita gunakan, itu juga kehendak alam. Kepentinga utama pelita kita adalah untuk diri sendiri. Tidak butuh pujian dan celaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 + nine =

Scroll Up