Alam Mimpi Saat Tidur Tidak Berbeda dengan Saat Tidak Tidur, Alam Ilusi…..

Mana dunia mimpi mana dunia nyata. Saat tidur kemudian mengalami mimpi dikejar harimau, bangun berkeringat dan jantung berdebar. Saat kita tidak tidur pun mengalami hal sama. Saat mimpi bertemu dengan wanita dan terangsang juga mengeluarkan cairan. Saat melekpun jika ber ML dengan wanita mengeluarkan cairan yang sama. Bukankah kita selama ini juga hanya bermain imajinasi sendiri?

Sepertinya demikian. Dalam mimpi pikiran berjalan dan membayangkan sehingga terjadi orgasme. Saat sadar pun sesungguhnya imajinasi kita sendiri yang mengirimkan sinyal ke otak sehingga membangkitkan rangsangan dan terjadilah orgasme.

Dalam mimpi pelakunya sendiri. Saat ML sepertinya berdua dengan pasangan tetapi jika diri tidak terangsang tidak akan terjadi orgasme. Rangsangan terjadi saat pikiran kita sudah melakukan hubungan terlebih dahulu. Bayangan ini mendorong terjadinya rangsangan terhadap anggota tubuh tertentu.

Dengan memperhatikan fenomena rangsangan pada tubuh ternyata situasinya sama. Imajinasi sendiri. Jika dari dalam diri tidak ada keinginan, rangsangan dari luar pun tidak mampu mendorong terjadinya aktivitas. Keinginan yang kuat sesungguhnya menjadikan terjadinya aktivitas. Misalnya kondisi badan sangat lapar. Tentu yang ada dalam pikirannya adalah makanan yang lezat untuk disantap. Jika saat itu di suguhi wanita seksi di hadapannya, dapat dipastikan tidak akan terangsang. Karena seluruh perhatiannya hanya membayangkan satu hal, makanan lezat.

Pikiran lah yang memicu terjadinya peristiwa. Pikiran yang mencipta kejadian pada dirinya sendiri. Jika pikiran pada saat hidup sudah dipenuhi bayang-bayang adanya pengadilan di alam setelah kematian, itu pula yang terjadi. Pikiran memancarkan resonansi ke sekitar. Saat kematian badan terjadi, pikiran tetap eksis. Pikiran yang terpenuhi oleh bayang-bayang ketakutan terhadap hukuman membentuk dunianya sendiri. Tuhan Maha adil tidak akan menghukum ciptaan Nya. Sayangnya manusia belum sepenuhnya menyadari hukum sebab akibat.

Segala ritual keagamaan hanya sebagai sarana untuk membebaskan pikiran dari keterikatan. Ritual sebagai sarana atau jalan bukan tujuan. Namun oleh pengaruh lingkungan yang tidak menunjang, ritual menjadi tujuan. Kembali manusia terjebak oleh pikirannya sendiri. Sang Jiwa mulia ‘terpenjara’ oleh pikiran.

Baik peristiwa dalam mimpi saat tidur dan keadaan dunia nyata sebagaimana kita fahami secara umum saat ini adalah ilusi. Artinya selalu berubah. Terjebak dalam alam ilusi ciptaan kita sendiri menjadikan manusia menderita. Kita merasakan kekurangan juga ciptaan manusia sendiri. Misalnya kita mendapatkan uang sebanyak 100 ribu kemarin. Kemudian hari ini uang tersebut hilang 20 ribu. Kita menyesal sekali. Pernahkah kita berpikir bahwa kemarin lusa kita tidak punya uang? Dan bukankah saat ini seharusnya bersyukur karena masih punya uang 80 ribu. Bukankah kah keadaan saat ini kita seharusnya bersyukur karena 2 hari yang lalu tidak memiliki uang sama sekali.

Sering sekali kita hidup dalam alam kemarin dan yang akan datang. Jarang sekali kita hidup dalam kekinian. Seandainya antara badan dan pikiran sinkron hidup dalam alam kekinian, bahagia akan dirasakan….