Alasan tidak makan sapi

0 Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Sapi

Dari video klip di bawah ini, saya baru memahami alasan bagi warga peradaban Hindu tidak makan sapi. Sapi adalah hewan terakhir pada siklus hewan menjadi manusia. Bukan bentuk fisiknya, tetapi mind, gugusan pikiran dan perasaan. Evlusi perasaan/emosi sapi yang paling mendekati ke pola yang dimiliki oleh manusia. Hewan herbivora adalah pemakan tumbuhan. Ia vegetarian.

Susunan giginya juga banyak kemiripan dengan manusia. Walaupun panjang ususnya jauh dari yang dimiliki manusia dan hewan pemakan tumbuhan rata-rata 10-12 kali panjang tubuhnya. Panjang yang sesuai untuk menyerap sari makanan sayuran dan buah-buahan. Demikian pula dengan tingkat keasaman lambung dalam diri manusia banyak kemiripan dengan hewan herbivora, sapi misalnya.

Proses Evolusi Mind belum sempurna

Untuk menjadi manusia, proses evolusi mind sapi yang paling mendekati manusia. Dari sisi kehalusan perasaan emosi. Ini terbukti ketika sapi akan disembelih. Mereka bisa mengeluarkan air mata. Di samping itu, sapi adalah hewan tidak banyak melakukan kegiatan. Duduk dan makan sambil memamah biak. Ruh yang merupakan gugusan pikiran dan perasaan sedang mengalami proses pensucian.

Agar sempurna soul nya menjadi soul/ruh manusia, si hewan herbivore ini semestinya mati secara alami. Tidak dibunuh. So, inilah sebabnya ketika mind si sapi lahir kembali dengan badan manusia masih liar disebabkan belum bengalami kesempurnaan dalam evolusi ruh atau mind nya.

Akibat ketidaksempurnaan

Sebagai akibat ketidaksempurnaan evolusi mind dari hewan ke manusia, Kita bisa melihat dari kelakuan atau perbuatan manusia di sekitar kita. Maaf kata, banyak yang bertubuh manusia, tetapi perilakunya belum menjadi manusia yang sesungguhnya. Inilah sesungguhnya tujuan utama kelahiran manusia.

Menjadi manusia berarti melakoni hidup berlandaskan dharmaSo, ciri utama perbedaan antara manusia dan hewan/sapi adalah pada neocortexBukan fisiknya saja, tetapi dari perbuatan kesehariannya. Mereka yang melakoni dharma dapat membedakan antara kepentingan diri dan umum.

Hal yang menarik bila kita bisa membuka diri untuk melakukan perenungan lebih dalam adalah semakin banyaknya yang tampaknya bertubuh manusia tetapi perilakunya bahkan melebihi hewan dari seni keserakahan.

Marilah kita berdoa bersama agar selalu diberikan arahan dari Dia Sang Penuntun agar bisa menjadi manusia seutuhnya. Bukan sekedar tubuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 − 11 =

Scroll Up