Aparigraha…..

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Teguh pada aparigraha atau sikap tidak memiliki, seseorang meraih sambodhah, pemahaman yang betul, tepat tentang ‘bagaimana dan apa’-nya keberadaan atau alam benda ini, termasuk tentang kelahirannya, keberadaannya.”

(Yoga Sutra Patanjali II.39 by Anand Krishna, www.booksindonesia.com)

Dari buku yang sama:

” Seseorang yang teguh pada aparigraha atau ‘sikap tidak memiliki'” – adalah seorang yang ber-buddhi. Integelegensianya berkembang. Manah atau mind sudah mulai bertransformasi total menjadi buddhi.

Mengapa setiap insan mesti memiliki ‘sikap tidak memiliki’?

Rasa memiliki yang berlebihan inilah sumber penderitaan. Penderitaan karena ciptaannya sendiri. Saat itu, ia menganggap bahwa jika benda yang dimiliki hilang, bahkan ketika seseorang kehilangan kekasih atau istri, ia merasa tidak berarti untuk hidup. Ia lupa bahwa lahir dan mati hanya sendiri. Bahkan seakan ia hidup bersama. Benarkah???

Jelas tidak. Bayangkan saat kita jatuh atau sakit. Kita merasa sakit sendiri. Orang lain tidak merasakan kesakitan kita. Untuk kembali sembuh kita juga sendiri. Orang lain hanya berkata dan berbelas kasihan. Betul, memang rasa empati juga membantu, namun kesembuhan adalah timbulnya kemauan dari diri sendiri untuk sembuh. Kemauan untuk tidak mau lagi mengalami penderitaan. Kemauan ini lah energi penyembuh dari dalam diri kita sendiri.

Saat ‘sikap tidak memiliki’ bisa berkembang dalam diri kita, saat itu kita hidup selaras dengan alam.Burung dan tumbuhan merasakan kebaagiaan karena mereka tidak memiliki rasa atau sikap ini. Burung berkicau sebagai ungkapan syukur. Itulah nyanyian peujian pada Sang Maha Agung. Karena mereka tidak kenal apa yang disebut ‘sikap memiliki’ mereka bisa hidup tanpa takut kehilangan. Kata ‘takut’ inilah sumber penderitaan.

Mengapa aparigraha dikatakan pemahaman yang tepat?

‘Sikap tidak memiliki’ dikatakan pemahaman yang tepat karena sifat akan alam benda demikian juga. Alam benda bersifat ‘tidak ada-ada-tidak ada lagi.’ Dengan mengembangkan ‘Sikap tidak memiliki’ sesungguhnya kita sudah selaras dengan sifat alam, tiada. Pikiran kita yang ingin merasa hebat lah sebagai sumber seakan kita sebagai pemilik. Realitanya?

Kita bukan lah pemilik. Suatu benda berada dekat kita, tetapi tidak bisa ada dalam tubuh kita. Hanya bisa memegang atau meilihat, bisa juga menggunakan, tetapi tidak bisa kita miliki sebagaimana anggota tubuh kita yang bisa kita bawa tanpa ketinggalan. Benda??? pasti tidak bisa menempel sebagaimana paru2 dan jantung kita. Apakah itu yang disebut milik?

Lucunya, terhadap yang kita miliki saja sering kita lupa. Seseorang sering lupa berucpa syukur atau mengelus atau mengusap yang dimilikinya. Tangan, kaki, pundak serta leher kita. Sebaliknya, kita begitu mengagungkan mobil, gadget atau jam mewah yang hanya bisa menempel di tubuh kita. Sering kali kta berbuat kekerasan terhadap anggota tubuh kita. Kita berjalan jauh tanpa merasa bahwa kita telah melakukan tindakan kekerasan pada kaki. Kita lupa bahwa setiap sel pada tubuh kita memiliki kecerdasan sendiri.

Kita lupa bahwa tubuh kita sesungguhnya Kuil atau gereja Tuhan. Kita pergi ke tempat ibadah atau tempat suci, kita sembah dan puja. Namun kita lupa bahwa Tuhan lebih dekat dari urat leher kita. Dengan kata lain sesungguhnya tiada keterpisahan antara kita dan Tuhan. Tubuh ini adalah alat Tuhan untuk berkarya di bumi. Amat menyedihkan kita lupa berterima kasih pada tubuh. Kita begitu mengagungkan Tuhan yang di luar tubuh kita, namun lupa bahwa tubuh adalah milik Nya…

Seseorang yang teguh pada aparigraha adalah orang yang ber-buddhi. Seseorang yang intelegensianya sudah berkembag. Intelegensia adalah kecerdasan alam atau Ilahi. Pola pikir yang selaras degan sifat alam. Mungkin kita lupa dengan sifat alam. Apakah yang disebut sifat alam?

Lihatlah sekitar kita. Kita hidup dengan makan tumbuhan. Dengan kata lain, tumbuhan merelakan kehidupannya agar manusia bisa hidup. Mungkin ini bisa dikatakan persembahannya pada Tuhan. Besar kemungkinan tumbuhan dan hewan sadar bahwa saat mereka mereka disantap oleh manusia, mereka merasa sedang mempersembahkan tubuh mereka pada Tuhan yang ada dalam diri manusia. Seharusnya manusia yang juga sebagai kuil Tuhan menyadari hal ini. Sebagai timbal baliknya, manusia memelihara lingkungan serta tumbuhan agar lestari. Kenyataannnya???

Manusia mengabaikan hubungan sinergi ini. Da berujung pada bencana yang membuat manusia hidup menderita. Bukan kah kita sendiri penyebab utama penderitaan kita. Kita hidup non- aparigraha, kita merasa sebagai pemilik…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × one =

Scroll Up