Apresiasi budaya Nusantara……

0 Meditasi No Comments

Apresiasi adalah budaya nusantara. Budaya bukanlah kebiasaan. Pada umumnya manusia belum bisa membedakan antara budaya dan adat. Sehingga banyak orang mengatakan jika molor waktu jam untuk rapat dikatakan budaya. Ini yang disebut adat atau kebiasaan. Kebiasaan buruk tetap disebut sebagai adat. Sedangkan kebiasaan atau adat yang baik disebut sebagai budaya. So, budaya adalah kebiasaan atau adat baik yang sudah mengalami pengujian dalam waktu yang panjang. Baik dalam arti selaras dengan sifat alam. karena budaya berkaitan dengan kata buddhi atau intelejensia; kecerdasan alam. Kecerdasan alam berarti sesuatu sifat yang selaras dengan alam atau berkaitan dengan hubungan manusia dengan alam dalam rangka untuk saling menghargai atau aperiasi.

Apresiasi bisa terjadi bila antara yang memberi dan menerima penghargaan menempatkan diri dalam kesetaraan. Tidak saling merendahkan. Apresiasi berbeda dengan toleransi. Toleransi bisa menganggap atau menempaykan pihak lain lebih rendah. Ini masih dalam level emosi. Ingatkah bahwa emosi adalah energy in motion atau enrgi yang sesaat ada di lain saat tiada. Apresia lahir dari budaya atau buddhi pekerti.

Toleransi yang masih pada tataran emosi sangat labil. Dan ini terjadi ketika seseorang masih kuran rasa empati atau kemanusiaannya. pada hal, kesempurnaan manusia terjadi ketika rasa kemanusiaannya sudah tinggi. Kemanusiaan yang tinggi menempatkan manusia sebagai insan Tuhan. Sifat kemanusiaan menyatukan. Apresiasi bersifat sama, menyatukan. Apresiasi adalah bentuk kesadaran bahwa apa yang ada dalam dirinya juga ada pada diri orang lain. Hanya mereka yang memahami bahwa dzat Tuhan yang ada dalam dirinya juga ada pada diri orang lain.

Inilah yang disebut Dharma. Dharma hanya satu kebenaran. Inilah sebabnya Mpu Tantulara dalam bukunya Sutasoma menyebutkan; ‘Tan Hana Dharma Mangrwa.’  Tiada Dharma yang dua litas. Dharma bersifat menyatukan. Dharma adalah sifat yang bersifat menyatukan. Segala pikiran, ujaran/ucapan, serta perbuatan yang selaras dengan sifat alam disebut Dharma.

Mereka yang memiliki sifat Dharma merasakah kedekatan dengan alam. Kemungkinan besar ini penyebab bahwa masyarakat perkotaan yang sudah jauh dari alam lebih kurang memiliki rasa apresiasi. Yang mereka pahami selama ini adalah Toleransi. Sama sekali bukan apresiasi. Bukan rasa apresiasi tetapi emosi untuk bertoleransi. Hanya emosi permukaan agar tampak bahwa dirinya ‘baik’. Bukan ketulusan yang muncul dari rasa kemanusiaan.

Masyarakat perkotaan yang semakin memperbesarkan istileh atau term toleransi sudah semakin menjauhi alam. Semakin menipis kecintaan terhadap alam. Tidak mengherankan karena pada umumnya mereka telah menempatkan keyakinannya sebagai ALAT untuk menggapai keluasaan dunia. bahka lebih parah lagi para pemimpin keyakinan saling memperebutkan kursi. Kursi dipandang sebagai kekuasaan tertinggi bukan sebagai alat untuk melayani. Ada yang mengatakan bahwa dirinya sebagai pelayan tetapi karena dianggap tidak selaras dengan pemahaman bahwa seorang pemimpin harus sebagai tuahn, maka justru dianggap musuh.

Mereka yang hidup di alam perdesaan lebih memiliki rasa apresiasi daripada masyarakat perkotaan. Kita sering sekali membaca berita bahwa ketika golongan keyakinan tertentu sedang merayakan hari besarnya, golongan yang berbeda keyakinannya turut menjaga. Bahkan ada yang turut merayakan dengan cara memberikan sesuatu. Semakin menjauh dari alam semakin berkurang rasa apresiasi.

Semakin memalingkan hidup pada bendawi semakin mejauh dari Tuhan dalam perwujudan sebagai alam serta lingkungan. Hewan, tumbuhan serta manusia adalah bagian dari alam yang tak terpisahkan.

Mengapa bisa terjadi seperti itu?

Karena semakin menyembah pada kenyamanan indrawi, sesungguhnya kita semakin menjauhi sumber keilahian dalam diri. Semakin jauh dari Tuhan. Semuanya diukur dari jumlah materi. Ukuran bendawi. Tidak mengherankan bila masyarakat perkotaan lebih mudah dihasut serta dipecah belah. Larena sifat perekat alami telah luntur. Karena sifat kemanusiaan semakin menipis. Semakin menipis pula rasa apresiasi. banyak barang impor masuk termasuk adat yang tidak sesuai dengan budaya aslinya…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 3 =

Scroll Up