Bangunlah dengan sadar……….

Benarkah kita semua bangun dengan sadar? Sedikit sekali orang bangun dengan sadar. Kebanyakan orang bangun tanpa sadar. Mereka sering bangun dalam keadaan bingung. Mereka hanya bangun dalam keadaan jaga. Belum ada koneksi. Orang bilang: ‘Nyawanya belum nyambung.’ Bukan dalam keadaan sadar. Apa cirinya?

Sangat mudah. Jika seseorang bangun hanya dalam keadaan jaga, ia langsung bangun dan tergopoh-gopoh melakukan sesuatu kesenangannya. Misalnya? Langsung pegang hape dan membuka yang disenanginya. Ia tidak sadar bahwa apa yang terlihat atau yang diingat pertama saat bangun pagi akan mewarnai kehidupannya.

Apa yang dimaksudkan bangun secara sadar?

Bangun dengan sadar adalah ketika kita membuka mata, kita lantas mengucapkan syukur pada Dia Sang Pemberi Kehidupan. Berterima kasih lah karena kita bangun dalam keadaan sehat dan sadar. Kemudian bangun pun kita harus memberikan perhatian pada tubuh. Bukankah tubuh kita adalah kuil atau gereja Nya?

Bagaimana mungkin???

Ingatlah teman, dalam suatu kitab suci disebutkan bahwa ‘Tuhan lebih dekat dari urat lehermu’. Dengan bahasa lain, antara kita dan Tuhan tidak ada keterpisahan, so? Tubuh kita adalah alat Nya untuk berkarya di muka bumi. Janganlah berbuat kekerasan terhadap tubuh kita. Sayangilah tubuh kita. Tanpa mampu menyayangi tubuh sendiri, bagaimana mungkin kita mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan?

Tentu menyangi tubuh bukan memanjakan dengan pakaian yang mewah dan mahal. Menyayangi tubuh berarti memberikan asupan yang membuat tubuh kita sehat. Janganlah memberikan asupan makan yang hanya memanjakan lidah. Bukahkah indra perasa hanya persepsi?

Demikian pula seluruh indrawi kita hanya persepsi. Misalnya, seorang bule melihat gudeg pertama sekali. (Inspirasi dari buku Yoga Sutra Patanjali by Anand Krishna, diterbitkan oleh Gramedia). Si bule begitu melihat warnanya yang gelap langsung berkomentar: “Makanan apaan tuh!!! Warnanya tidak menarik.”

Namun setelah dijelaskan cara pembuatannya serta bumbu yang digunakan, ia mau mencoba. Dan ternyata lidahnya merasakan kelezatan. Inilah persepsi indrawi dan lidah. Semua hanya tipuan sementara. Demikian pula, kita masih ingat pertama sekali makan di suatu tempat dengan pacar kita tercinta. Setelah beberapa tahun, karena sesuatu dan lain hal, kita terputuskan dengan pacar. Saat kita makan di tempat yang sama, kita merasakan tidak ada lagi yang enak. Inilah persepsi akibat makan dengan seseorang yang kita sayangi.

Kita telah menjadi budak persepsi sesuatu yang tidak abadi. Sesuatu di luar diri.

Apa hubungannya dengan bangun secara sadar???

Pertanyaan yang tepat…..

Bangun yang hanya sekedar jaga berarti kita bangun kemudian mengarahkan perhatian di luar diri. Perhatian pada persepsi indrawi. Sebaliknya, bangun dengan sadar dengan berucapkan syukur atas berkah Nya berarti kita bangun dengan mengarahkan kesadaran kita ke dalam diri. Dia tidak berada di luar, Dia ada dalam diri kita. Bukankah tidak ada keterpisahan antara kita dan Tuhan?

So, dengan mengawali bangun secara sadar, kita sedang membuat pola kerja pikiran kita selaras dengan sifat alam atau sifat Ilahi. Selaras dengan sifat Ilahi berarti kita ingat bahwa: ‘Janganlah berbuat sesuatu terhadap sesama sebagaimana dirimu tidak ingin orang lain melakukan perbuatan tersebut pada dirimu. Janganlah menampar jika tidak ingin ditampar.’

Dengan bangun secara sadar, kita selalu berupaya mengingatkan diri sendiri bahwa tubuh kita adalah alat Nya. Cara berpikir seperti ini akan mendorong kita untuk berpikir, berucap serta berbuat selaras dengan alam. Saling mengasishi…..

Sayangilah diri sendiri dengan bangun secara sadar…………..

Dengan cara ini kita mengasihi tubuh serta Tuhan Semesta alam….