Belajar dari Rahwana

0 Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Rahwana

Seorang Rahwana adalah sosok yang dianggap jahat dalam cerita klasik Ramayana. Namun demikian Bapak Anand Krishna telah menunjukkan sisi lain dari sosok yang dianggap jahat. Kejalian beliau mengungkapkan sesuatu yang selama ini tidak bisa dilihat oleh orang awam, terutama diri saya.

Kita selama ini terlena bahwa ketika banyak orang mengatakan seseorang jahat, kita langsung percaya. Kita lupa bahwa sejatinya ketika kita melihat kejahatan orang serta menganggap diri kita bersih dan suci hanyalah membuktikan bahwa itulah cerminan diri kita; keadaan diri sesungguhnya diri kita. Inilah sebabnya, kita harus senantiasa mawas diri atau eling.

Maryada 

Maryada atau tata krama yang ditunjukkan oleh seorang Rahwana ketika menerima undangan Rama untuk melakukan upacara pemujaan kepada dewa Shiva sang pendaur ulang membuktikan bahwa ia memiliki kecerdasan untuk memilah. Ia mampu memisahkan diri kapan harus berperan sebagai seorang pendeta, dan kapan harus berperan sebagai sosok yang bukan pendeta.

Dalam keseharian kita, kebanyakan kita dikuasai emosi sehingga kita melupakan sisi kemanusiaan dalam diri kita. Kita sudah melupakan tujuan utama Kelahiran kita. Ketika emosi menguasai diri kita, kita telah lupa bahwa bahwa kita telah menjadi budak dari pikiran. Pikiran yang sesungguhnya bukan jati diri sejati.

Maryada ini sekarang sudah meluntur seiring dengan kemajuan teknologi.

Hilangnya Budhaya

Budhaya kita telah mulai hilang. Tercerabutnya budhaya semakin menjauhkan diri dari laku sopan santun. Tampaknya ada suatu kekuatan yang berupaya menghilangkan budhaya kita. Termasuk menghormati alam. Mencintai serta menghormati alam dianggap menyembah berhala atau ‘animisme’.

Kata ‘animisme‘ pun sepertinya asing ditelinga kita. Hal-hal seperti ini semakin menjauhkan diri dari alam. Kita anggap kita bisa mengatur alam. Anggapan seperti ini membuat kita terkena bencana. Semestinya kita yang menyelaraskan diri terhadap alam; dan bukan sebaliknya.

Kesombongan diri yang menganggap alam sebagai komoditas untuk memenuhi keinginan yang berlebihan telah membuat bumi menangis. Alam bukanlah barang yang bisa kita eksploitasi untuk memenuhi nafsu kita yang hanya sesaat yang pada akhirnya kita mengalami penderitaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twenty + 4 =

Scroll Up