Benarkah kita bisa mengatakan diri sebagai Manusia?

0 Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Manusia

Seorang Manusia berarti ia yang bisa mengendalikan pikirannya. Singkat tetapi sarat makna. Ya, selama kita Tidak bisa mengendalikan pikran, berarti kita belum menjadi Manusia. Mengendalikan pikiran berarti menjadikan intelejensia atau buddhi sebagai sais atau kusir kereta.

Selama ini kita bergerak atas dasar keinginan. Keinginan bukanlah kebutuhan. Seseorang yang telah menjadi Manusia berarti ia bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Ketika ia tidak bisa antara keduanya, berarti ia belum beranjak dari dari otak reptilia/mamalia. Ini pangkal terjadinya korupsi.

Sais pengendali kehidupan

Bila seseorang telah bisa menenmpatkan buddhi atau intelejensia sebagai sais atau pengemudi kereta, maka ia baru bisa dikatakan sebagai insan yang utuh. Bukan masalah kepintaran, tetapi masalah pengembangan intelejensia sebagai pengendali kehidupannya.

Mereka yang manjadikan buddhi sais kereta, maka ia dwanggap kenal kemuliaan diri. Dan, kemuliaan diri inilah Ciri utama sebagai insan Ilahi. Ia memiliki sifat yang sama atau sejenisa dengan Sang Maga Sumber, Pengasih dan Penyayang. Ia seorang yang menjalani Dharma sebagai landasan hidup.

Bentuk Kehidupan

Semua yang ada di alam kita ini adalah bentukan-Nya. Mereka tidak eksis bila Dia tidak berkehendak Celakanya, kita yang belum kenal diri, tidak bisa memahami bahwa hewan yang diciptakan pun memiliki hak untuk hidup. Sapi dan kambing serta hewan yang bisa dikonsumsi merupakan ciptaan-Nya.

Menyembah-Nya berarti menghargai dan menghormati semua ciptaanNya. Bila kita sadar bahwa keberadaan mereka untuk membantu kita, kita tidak bisa mengkonsusmsi sesama makhluk hidup, dalam hal ini hewan. Karena mereka  telah memiliki tingkat evolusi lebih tinggi dari tumbuhan. Tingkat evolusi bearti kualitas mind. 

Yang menarik adalah, bahwa sesungguhnya leluhur kita telah menghargai semua kehidupan. Mereka yang selama ini disebut sebagai Animisme

Kecerdasan

Sebagai Manusia yang memiliki kecerdasan, yang berarti memahami bahwa kita semua bergantung pada sesama makhluk hidup untuk hidup. Hidup bersama dengan makhluk lain juga berarti mengerti bahwa Dia Hyang Maha Hidup menciptakan makhluk bukan tanpa makna. Leluhur kita kenal kearifan lokal; Urip iki Urup.

So, adalah tujuan Manusia di bumi untuk melaukan transformasi dari intelektual menjadi intelejensia.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen − three =

Scroll Up