Berkah semesta, itulah makna bagi alam kehidupan

0 Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Berkah Semesta

Berkah Semesta dengan kehadiran manusia di muka bumi. Para bijak dari dahulu telah mengingatkan kewajiban atau tugas keberadaan manusia di muka bumi. Rahmatan lil alamin merupakan pesan dari utusan terakhir. Betul sekali bila pesan yang disempurnakan. Penyempurnaan bukan berarti yang dahulu kurang, namun hanya masyarakat penerimanya sudah semakin bebal atau tidak peduli.

Pesan yang lunak dan persuasif tampaknya tidak lagi bisa diimplementasikan pada masyarakat yang sufat keraksasaanya semakin kental. Sang Pembawa pesan sadar bahwa yang dihadapinya adalah lingkungan keras sehingga butuh pesan yang lugas dan tegas. Bahkan mengandung ganjaran dan hukuman (Reward and Punishment). Suatu lingkungan yang masih sangat ‘muda’.

Eling

Sementara di Wilayah Peradaban yang lebih peka akan keterhubungannya dengan lingkungan, sadar bahwa sesungguhnya lingkungan lah yang menjadi sumber kehidupannya. Oleh sebab itu mereka selalu ‘Eling’ atau remembrance dalam segala keadaan situasi dan keadaan yang dialami dalam kehidupannya. ‘Eling’ inilah menjadi berkah semesta; sadar bahwa semua makhluk memiliki hak yang sama untuk hidup dan menikmati kehidupan dimuka bumi.

Sayangnya sikap ‘Eling‘ seperti ini dianggap penyembah pohon.  Sebagaimana dalam video di atas, ketika kita menjaga lingkungan, maka kita akan terjaga dengan sendirinya. Karena sumber pangan kita tetap terpelihara. Inilah berkah semesta.

Hanya amat disayangkan bahwa kondisi Kesadaran sebagaimana yang diwariskan oleh para leluhurnya semakin memudar atau tergerus dan bahkan dilupakan. Semuanya karena ingin cari gampangnya. Dan mereka yang membawa suatu kebiasaan yang tampaknya mudah, reward and punishment ; konsep surga neraka pun sesungguhnya tidak memahami pesan sesungguhnya dari Sang Baginda.

Kehancuran

Semakin besar kekuasaan atas dasar jumlah bukan merupakan hal baik. Di alam ini tidak dapat disangkal bahwa kegelapan atau ketidakpedulian lebih besar jumlahnya. Yang benar dan sejati tidak tampak bahkan semakin samar. Padahal yang tampak nyata belum tentu membahagiakan. Karena yang tampak nyata sejatinya bersifat semu; setiap saat berubah.

Semakin kuat dan perkasa menguasai semua lini sesungguhnya sedang menuju kehancuran. Inilah permainan alam.

Sedikit yang bijak dalam memhami kehidupan bagaikan mendaki. Ketika kita mendaki butuh upaya dan tenaga, namun saat kita menurun vampier sama sekali tidak menggunakan tenaga. Hal seperti ini yang dilakukan kebiasaan yang merusak, namun tampak mudah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twenty − thirteen =

Scroll Up