Bertepuk sebelah tangan?

0 Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Bertepuk sebelah tangan

Bertepuk sebelah tangan, apa mungkin? Sebelum memahami arti kebahagiaan yang sesungguhnya, saya tidak memahami makna kata ini. Karena dari para bijak, kita belajar bahwa makna sesungguhnya dari kebahagiaan adalah bila melihat orang lain bahagia (Soul Awareness by Anand Krishna). Bahagia bukan karena SMS. Ini penyakit dari kita pada umumnya. Mau bukti?

Silakan buka sosmed/media sosial tempat banyak orang melepaskan emosinya. Di tempat yang dengan mudah menarik orang utuh memaki dan berceloteh semaunya merupakan laban subur bagi yang sukar memahami makna kata bertepuk sebelah tangan.

Kesucian Para Suci

Kesucian para suci bukan dilihat dari cara berpakaian sebagaimana yang menjadi trendi di era penuh kepalsuan seperti sekarang ini. Banyak orang memahami kesucian atau kebaikan hanya dari tampilan luar. Bahkan bila ada orang sadar bahwa tampilan luar hanya cara untuk bersensasi ria dianggap bukan golongan atau kelompoknya. Bukan hanya pakaian, tetapi cara ritual pun menjadi ajang berpamer ria. So, banyak orang mengalami kerugian karena sebenarnya akibat ulahnya sendiri.

Kitab suci tidak bisa membuat seseorang menjadi suci. Tanpa melakoni yang tertulis dalam kitab suci sebagaimana yang disampaikan oleh Sang Pembawa Pesan, maka kita tidak menjadi suci hanya dengan mengagung-agungkan kitab tersebut. Semua warisan para suci yang terkandung memiliki satu pesan sama yang bersifat universal: “Perlakukan orang lain sebagaimana dirimu ingin diperlakukan’

Bahagia

Bila kita masih memaknai bahwa ketika keinginan kita terpenuhi kemudian kita merasa bahagia, maka kita belum memahami makna kebahagiaan. Terpenuhinya keinginan hanyalah merupakan kelegaan atau rasa senang yang merupakan luapan emosi.

Bertepuk sebelah tangan berarti kita tidak membutuhkan tangan lainnya untuk menimbulkan suara kebahagiaan. Rasa kesenangan membutuhkan pemenuhan atas adanya keinginan.

Para suci hanya bersandar pada Dia yang ada dalam diri sendiri. Sejatinya rasa bahagia sudah ada dalam diri kita. Rasa bahagia yang tidak membutuhkan pasangan bisa terjadi bila menyadari bahwa Dia Yang Maha Membahagiakan bertahta dalam diri kita. Dia tidak berada jaus di atas atau di bawah sana

Oleh karena itu carilah kebahagiaan dengan cara masuk ke dalam diri. Kebahagiaan terjadi bila hijab keinginan-keinginan tersingkap…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × one =

Scroll Up