Berterima kasih pada Tuhan????

Semakin membingungkan saya. Mungkin banyak orang akan berkomentar: ‘Dasar ateis… Ga tahu terima kasih pada Tuhan…’ Dan lain sebagainya. Okay, jika ada yang berkomentar demikian, itu juga hak anda. Sebaliknya, bukan kah saya juga punya hak untu bingung??? Salah???

Ketika saya mau minum air putih, saya selalu mengatakan: ‘Terima kasih air. Aku mengasihimu wahai air.’ Mengapa saya lakukan demikian? Karena air terpisah dari diri saya, maka saya bisa berkata untuk mengucapkan terima kasih. Saya mengatakan ucapan terima kasih pada air karena saya ingat hasil penelitian Masaru Emoto tentang air. Mungkin bisa dibaca disini. Dengan mengucapkan terima kasih, sesungguhnya saya sedang mengubabah molekul air menjadi kristal obat yang bermanfaat pada tubuh saya.

Mungkinkah ucapan terima kasih juga bermakna demikian? Dengan ungkapapn: ‘Terima Kasih Tuhan, sesungguhnya saya sedang mengubah sel dalam tubuh saya agar menjadi lebih baik dan lebih baik. Dengan cara ini sesungguhnya kita melakukan upaya transfromasi diri yang berguna bagi kesehatan mental dan tubuh. Jika ungkapan ini benar setulus hati, dijamin tubuh dan mental pikiran kita menjadi sehat.

Sebaliknya, jika ungkapan terima kasih berharapkan imbalan, maka tak pelak lagi tiada hasil positif yang kita dapatkan.

So, ungkapan terima kasih pada Tuhan bukan berarti ada 2 individu yang beda atau terpisah. Mungkinkah kita terpisah dari Tuhan Yang Maha Hidup? Mungkin kah kita bisa hidup di luar Yang Maha Hidup? Mungkinkah kita mengucapkan terima kasih pada Tuhan seperti kita menyampaikan ucapan terima kasih pada seorang teman? Dengan memaknai hal ini, sesungguhnya kita memaknai ungkapan terima kasih atau syukur peda Tuhan lebih dalam daripada sekedar ucapan terima kasih pada sesama manusia.

Inilah sebabnya para mistik sufi dan para avatar mengungkapkan rasa terima kasih pada Tuhan dengan ekspresi lebih dalam lagi. Berbagi kebajikan pada sesama. Itulah ungkapan rasa terima kasih yang sesungguhnya. Bukan sekedar basa-basi atau lips service tetapi dengan perbuatan. Berpikir, berucap serta berbuat baik.

Apa yang pantas dibagikan pada sesama pejalan kehidupan???

Jelas berbagi tentang tujuan kehidupan. Bukan berbagi harta dunia yang pada akhirnya justru membuat orang lupa akan tujuan kehidupan. Memang pada awalnya berbagi harta benda dunia dibutuhkan selama orang tersebut memang butuh untuk bertahan hidup. Bukan untuk kemewahan atau kenyamanan diri. Saat kita memandang bahwa orang tersebut sudah bisa mandiri, saat itu bantuan fisik harus dihentikan. Berbagilah tentang bagaimana menempuh kehidupan yang tepat sehingga terpenuhi tujuan keberadaan manusia di bumi ini. Untuk evolusi kesadaran. Kesadaran akan jati diri manusia, Sang Maha Jiwa.

Jika ungkapan terima kasih masih bersifat luaran, seakan Tuhan jauh di atas sana, kita masih belum memahami bahwa Diri sejati kita adalah percikan Nya juga. Percikan Sang Maha Jiwa, Sang Jiwa Agung.

Kualitas percikan air laut dan laut sama. Hanya jumlah dalam kuantitas yang beda. Demikian juga seharusnya kita berpikir. Jiwa yang saat ini sedang ‘menghuni’ dalam tubuh memiliki kualitas yang sama dengan Sang Jiwa Agung. Hanya kuantitasnya saja ynag ‘beda’. Ini juga sekedar ungkapan untuk memudahkan cara pikir kita.

Pada hal, mungkinkah ita memisahkan antara matahari, cahaya matahari dan sinar matahari? Sinar matahari tidak akan ada ketika cahaya matahari tidak eksis. Keberadaan cahaya matahari sebagai bukti nyata bahwa matahari ada. Mungkinkah cahaya matahari mengucapkan terima kasih pada matahari????