Bumi Eksis Semata Demi Manusia……

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Belajar di bumi. Ketika melihat roket diluncurkan dari pangkalan, kita merasakan ada perbedaan situasi dan kondisi. Hal ini lumrah. Lokasi peluncuran di Amerika, India, Indonesia dan lain tempat dapat dipastikan berbeda. Namun begitu roket meluncur dan melayang di angkasa, setiap awak pengemudi roket tidak lagi dapat membedakan tempat ia berada saat itu. Karena semua pemandangan sama. Hanya ada awan.

Saat di bumi kita melihat dan merasakan cuaca. Melihat dan mengenal, ini lokasi dan suasana India, Amerika, Indonesia dan lai-lain tempat. Bukankah keadaan ini analog dengan kondisi kita saat memeluk agama?

Saat kita memeluk agama tertentu kita bagaikan berada di lokasi peluncuran roket. Kita bisa berkata kepada mereka yang pangkalan roketnya di Amerika, keadaanku lebih baik lho. Saat ini tempatmu kan dingin, tempatku panas dan lain-lain argumen disampaikan. Yang disampaikan adalah persepsi pribadinya. Demikian juga sebaliknya si Amerika. Keadaan daerahku lebih baik. Karena memang ia biasa dan merasa nyaman dengan tempatnya.

Itulah keadaan kita semua yang selalu mengunggulkan bahwa yang kita ikuti lebih baik dari yang lain. Kondisi ini sangat berbeda ketika sudah di angkasa lepas. Coba tanyakan pada masing-masing awak pesawat, bagaimana kondisi tempatmu? Jawabannya sama awan dan awan. Tidak lagi mereka bisa berkata bahwa kondisinya lebih baik karena kapan saja situasi berubah. Dan pemandangannya sama langit dan awan.

Para Masterpun demikian, mereka hanya melihat angkasa cinta/kasih yang tak terbatas. Itu sebabnya tiada seorangpun master menyatakan bahwa yang disampaikan lebih baik daripada yang lain. Jika pun ada yang menyampaikan bahwa kedatangannya untuk menyempurnakan yang sebelumnya adalah wajar. Karena yang disampaikan adalah khas untuk masyarakat yang berbeda dari sebelumnya.

Oleh karenanya jika ingin memiliki pandangan yang sama, marilah kita beranjak dari tempat sempit dan rendah . Pangkalan roket adalah sempit dan rendah. Sempit karena pandangan kita terbatas. Rendah karena di bumi belum mengkasa. Keluasan pandangan ini membawa jiwa kita lebih bebas. Inilah tujuan kelahiran kita, membebaskan sang jiwa dari kungkungan pikiran.

Mengapa kita selalu mengingkari pesan nabi? Karena badan ini memang selalu menuntut kenyamanan. Mengapa demikian? Karena dunia/bumi masih tetap ingin eksis. Mereka juga berjiwa. Agar tetap eksis, mereka menciptakan kenyamanan duniawi. Dan karena Tuhan sayang kepada manusia, maka bumi masih diperkenankan eksis. Jika tiada lagi manusia berpenghuni di bumi karena tiada lagi badan dibutuhkan sang jiwa, maka musnahlah bumi.

Jadi Tuhan masih memberikan kesempatan pada bumi agar tetap eksis, semata-mata karena manusia butuh tempat tinggal untuk hidup. Suatu ketika entah kapan, tiada lagi manusia suka dengan kenyamanan bumi, maka selesailah tugas bumi menopang kehidupan manusia.

Dan musnahlah ia……

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 − three =

Scroll Up