Butuh Tuhan untuk bahagia?

0 Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Butuh Tuhan

Butuh Tuhan berarti Tuhan terpisah dari diri kita. Benarkah demikian?

Kita bisa mengatakan bahwa butuh makan, karena memang makanan tersebut terletak terpisahkan dengan keberadaan kita. Tetapi ketika kita bisa mengtakan bahwa bahagia karena bertuhan atau butuh Tuhan, kita telah menyatakan diri sebagai bagian terpisahkan dari Tuhan. Mungkinkah?

Tuhan dan Uang

Dalam suatu survei yang pernah dilakukan di negeri tetangga tentang penyebab kebahagiaan, dari hasil pooling disebutkan bahwa penduduk di negeri tetangga tersebut menunjukkan bahwa Tuhan dan Uang yang membuat orang bahagia. Aneh bin ajaib jalan pikiran orang yang tinggal di negeri tetangga tersebut. Bagaimana tidak ajaib?

Mungkinkah kita terpisahkan dari Dia Yang Maha Hidup?

Banyak para bijak menuliskan tentang hal tersebut. Kita yang di alam semesta raya ini berada dalam Tuhan. Sederhananya adalah bahwa bila ada keterpisahan berarti eksistensi Tuhan dan kita berada pada level yang sama? Masuk akal?

Ataukah pendapat penduduk tetangga didasarkan bahwa Tuhan sebagai Maha Pemberi sehingga Kita bisa meminta segala sesuatu, termasuk uang? Ini semakin aneh? Bila mau mendapatkan yang ya mestilah bekerja. Kita tidak bisa memperoleh uang demi memenuhi kebutuhan hidup hanya diam dan berdoa minta kepada Tuhan, ya harus bekerja. Uang tidak jatuh dari langit begitu saja. Seakan Tuhan adalah bank penyedia uang gratisan. Bekerja keras dan cerdas, itulah doa yang mujarab.

Uang adalah energi. Tanpa adanya uang, kita tidak bisa makan, tidak bisa minum dan segala hal yang kita butuhkan untuk hidup. Bahkan untuk meditasi pun dibutuhkan uang. Bila kita bergabung dalam suatu paguyuban meditasi, maka uang dibutuhkan uang untuk pemeliharaan gedung dan bersih-bersih.

Salah persepsi

Persepsi kita yang menganggap uang sebagai sumber kebahagiaan membuat kita menderita. Karena sumber kebahagiaan bukanlolah di luar, tetapi di dalam diri sendiri. Mata yang hanya melihat ke luar membuat pikiran dan perasaan emosi terusik. Ketidakpuasan yang kita peroleh membuat kita menderita.

Walaupun yang kita inginkan dapat diperoleh, kesenangan sesaat saja waktunya. Karena kita bergantung pada materi yang bersifat terus berubah.

Apalagi memiliki persepsi bituh Tuhan untuk bahagia….

Ini persepsi saya yang terbatas terhadap buku The Science of Fear Management & The Art of Being Happy by Maharishi Anand Krishna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 + 20 =

Scroll Up