Distorsi makna Budaya…

0 Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Makna Budaya 

Bila kita membedah kata Budaya, kita baru bisa mengerti bahwa selama ini kita telah banyak meyalah artikan definisi dari ‘Budaya’. Masih lumayan baik bila makna budaya dikaitkan dengan kesenian, seni tari atau seni pertunjukan daerah seperti wayang, ketoprak, ludruk dari Surabaya atau wayang kulit, orang dan golek. Ada yang lebih parah lagi.

Nah ini penyakit manusia yang karena tidak tahu kemudian mengatakan bahwa perbuatan yang merugikan orang banyak seperti korupsi dan molor pertemuan dimaknai sebagai budaya. Budaya korupsi, aau budaya jam karet. Kesalahan utama kita adalah belum tahu persis sudah buka mulut. Parahnya lagi, penyakit ketidaktahuan ini meluas bagaikan virus.

Keunggulan Leluhur

Setelah kita memahami arti sesungguhnya dari kata ‘Budaya’, barulah kita bisa menghargai betapa tingginya warisan leluhur kita. Dan ini bukan berasal dari impor. Asli dan tulen warisan para pendahulu kita yang berbudhi luhur. Kata ‘Buddhi luhur’ pun ada kesalahan. Duplikasi kata. Buddhi sama dengan luhur atau mulia.

Mari kita mulai membedah kata ‘Buddhaya’. (Dikutip dari buku Ananda’s Neo Self-Leadership by Svami Anand Krishna, www.booksindonesia.com)

Kata buddhaya merupakan gabungan dari dua kata dalam bahasa Sanskreta, Buddhi dan Hridaya. Kata ‘Budi’ dalam bahasa kita berasal dari Buddhi, yang penghalusan Gugusan Pikiran dan Perasaan. Penghalusan sempurna: Penghalusan yang terjadi sedemikian rupa sehingga Gugusan Pikiran serta Perasaan bertransformasi total menjadi Budi atau ‘Buddhi’. Buddhi adalah kecerdasan intelejensia. Kecerdasan alam atau yang selaras dengan sifat alam.

Sedangkan kata kedua, Hridaya berarti  Jantung. Dalam koteks ini bukanlah organ jantung, tetapi jantung terdalam, tempat rasa terdalam berkembang. Dan rasa terdalam adalah Kasih.

Di sinilah keunggulan leluhur kita; kata budaya yang memberikan arti atau makan yang luar biasa. So, janganlah mengartikan secara sembarangan kata ‘Budaya’ ini dan itu yang ternyata kita sendiri membuat kesalahan fatal dalam memberikan makna.

Seni tari lahir dari makna Budaya

Tarian serta kesenian tradisional yang selama ini kita anggap merupakan makna budaya bukanlah arti sebenarnya dari kata ‘Budaya’. Namun karena kehalusan budhi atau perasaan/pikiran terlah berkembang, maka kemudian bisa melahirkan karya seni tari dan pertunjukan tradisional seperti wayang orang, ketoprak, serta seni lainnya. Karena seni yang indah berasal dari keindahan dari dalam diri. Rasa kasih terdalam diekspresikan berupa seni tari pertunjukan yang indah.

Keindahan rasa menciptakan tarian yang bisa membuat perasaan menjadi lembut. Inilah sebabnya bisa seseorang mencintai tarian bisa terjadi transformasi diri sehingga menghasilkan kehalusan rasa. Sepertinya setiap gerakan tari yang lembut dan penuh kasih/cinta mengubah susunan syaraf dalam otaknya sehingga terjadi perubahan sifat secara alami.

Lucunya, ada kebiasaan dari negeri luar yang melarang tarian serta nyanyian. Dan bila kita bisa memahami efek seni tari dan nyanyi, kita bisa mengerti mengapa pelarangan ini terjadi. Karena mereka yang berjiwa lembut tidak mudah dikendalikan. Ini terjadi sebab jiwa yang lembut berarti telah mampu mengakses Dia Yang Maha Lembut.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × 1 =

Scroll Up