Elastisitas kunci kesuksesan hidup, materi maupun non-materi….

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

‘Kehidupan selalu terbuka dan menyambut penyesesuaian ulang. Jika Anda menutup diri terhadap penyesuaian dan penyesesuaian ulang serupa, maka Anda berhenti hidup.’

(This is Truth That too is Truth by Anand Krishna, www.booksindonesia.com)

Tidak ada yang sempurna, yang ada sempurna dan lebih sempurna. Siapa yang bisa mengatakan bahwa dunia tidak sempurna. Tidak satupun dari kita manusia bisa menilai. Kita mengatakan sempurna karena kita anggap itu terbaik menurut pandangan kita. Sedangkan pandangan kita juga meru[pakan persepsi kita. Persepsi kita berdasarkan kesukaan kita. Kita mengatakan seseorang wanita langsing cantik, di bagian lain dari dunia yang sama bisa menyebutkan seorang yang tambun cantik. Inilah persepsi berdasarkan referensi kita yang terbatas.

Kehidupan yang kita lakoni bersama selalu terbuka dan menyambut penyesuaian. Seseorang yang tidak bisa menerima penyesuaian dan penyesuaian ulang tidak bakal menjadi sukses. Lihatlah statement berikut:

‘Kekakuan menuntun Anda pada kegagalan. Kekakuan adalah anti ekspansi, anti perluasan. Untuk sukses, Anda harus menjadi fleksibel dan luwes. Fleksibel menjamin pertumbuhan. Keluwesan adalah kunci kesuksesan.’

(This is Truth That too is Truth by Anand Krishna)

Lampu yang kita kenal sekarang sudah ribuan kali mengalami penyesuaian bentuk Ia selalu menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Dulu disebut bohlam sekarang disebut lampu LED. Terangnya semakin baik dan juga semakin ramah terhadap mata kita. Penelitian terus dilakukan tiada henti sesuai dengan penemuan material yang ada. Inilah kesempurnaan, berkembang terus.

Saat seseorang menganggap kepercayaannya sendiri sudah sempurna, ia menuju kematian. Anti ekspansi adalah jalan menuju kematian. Galaksi demi galaksi ditemukan. Planet baru terus dijumpai. Teori tahun 1900 an dikatakan oleh Albert Eistain, 100 tahun kemudian baru dibuktikan. Terbuka menyambut penyesuian adalah kunci menuju kesuksesan.

Pohon bisa hidup karena ia mampu menyesuaikan dengan lingkungan. Anda sebagai pengusaha tidak bisa meraih kesuksesan jika tidak luwes. Luwes bukan berarti plin-plan. Luwes yang dinamis. Boleh juga dikatakan kita penganut faham dinamisme. Selalu bergerak dan mampu melihat celah. Apakah dalam hal keyakinan juga harus dinamis?

Mengapa tidak???

Bukankah persepsi kita saat ini tidak akan sama dengan beberapa hari ke depan. Mengapa? Karena pikiran kita juga dinamis. Inilah emosi, e-motion. Energy in motion. Kita semua memiliki emosi. Dan emosi kita senantiasa berubah. Keyakinan kita saat ini berada di suatu level yang kita anggap benar.

Benar dari sisi mana? Bukankah pandangan kita juga persepsi. Bayangkan gambar suatu tabung. Anda memandang tabung dari depan, anda melihat tabung bulat. Ketika kita memandang tabung dari samping, kita tidak lagi melihat tabung yang sama saat kita melihat tabung dari depan. Pandangan kita terbatas. Sisi kebenaran banyak. Kekakuan kita terhadap keyakinan sendiri paling benar bisa mematikan evolusi.

Kita semua sedang berevolusi, bagaimana mungkin kita menolak pertumbuhan atau perkembangan. Jika kita menolak pertumbuhan atau perkembangan lain dari sisi kebenaran, kita akan membusuk dan mati. Lihat saja mereka yang menganggap keyakinan sendiri paling benar, ia kaku dan alot. Akhirnya ia mati membusuk. Kehidupan setelah kematian adalah lanjutan dari kehidupan sekarang. Jika saat hidup di dunia matanya buta, maka jangan berharap ia melek setelah kematian. Pikiran tetap eksis, apa yang dipikirkan sekarang akan dibawa setelah kehidupan fisik berakhir.

Batu bentuknya tetap, saat dipindah di tempat lain, bentuknya tetap. Ia tidak fleksibel. Udara, dimana saja ditempatkan mampu menyesuaikan. Udara mejadi benda penting dalam kehidupan kita. Tanpa udara, manusia tidak bisa hidup.

Kasih juga bersifat luwes atau fleksibel. Di kala seseorang membutuhkan makanan, seseorang yang penuh kasih akan segera memberikan makanan. Namun bukan berarti bahwa makanan adalah segalanya. Di kala makanan tidak dibutuhkan, seseorang yang memiliki kasih memberikan hal lain yang dipandang bermabfaat bagi pertumbuhan jiwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen − 8 =

Scroll Up