Gagal Move On adalah Kematian……….

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Move On

Move On berarti tidak lagi berpijak pada tempat atau situasi/kondisi yang sama. Mereka yang tidak bisa melupakan masa lalu berarti belum move on. Mereka belum beranjak dari situasi yang masih sama. Mereka sedang mengalami kematian.

Move On juga berarti berpindah dari pola atau cara berpikir yang bersifat materi ke arah pola pikir yang lebih luas. Dari memikirkan hanya kepentingan diri atau golongan ke arah kepedulian bagi semua makhluk.

Mari kita simak video di bawah ini:

Kawin dan cerai

Seseorang yang telah memutuskan menghabiskan masa pacaran kemudian menikah berarti telah mengambil keputusan untuk berpibdah cara pikir dari bujang ke ara berkeluarga. Dari hanya mengurusi keluarga sendiri ke pola pikir mengurusi keluarga sendiri dan keluarga istri. Sehingga segala hal yang menyangkut keadaan istri/suami juga berkaitan degan keluarga besar istri/suami.

Namun bila telah memasuki alam pernikahan kemudian cerai karena sesuatu hal yang dianggap tidak cocok kemudian melakukan perkawinan dengan istri/suami ‘baru’, ini tidal move on. Mungkin banyak orang berpendapat bahwa hal ini sudah berganti keadaan atau pijakan; sudah move on.

Masalah Pola Pikir

Mereka yang kawin-cerai-dan kawin lagi berarti belum berhasil melakukan transformasi diri. Semua perceraian berpusat pada ketidakmauan untuk memahami orang lain. Masih berpusat pada ego. Ego yang menganggap bahwa dirinya paling benar. Kawin lagi bukan suatu menyelesaikan masalah perceraian sebelumnya. Karena sesungguhnya pusat permasalahan pada cara berawal dari cara berpikir yang hanya berkaitan dengan kenyamanan indrawi. Kesadaran badan/terendah.

Semestinya sebagaimana tujuan utama kelahiran, manusia sudah mesti melampaui kesadaran diri rendah menuju kesadaran untuk mengurusi kepentingan umum. Dari cara berpikir intelektual ke buddhi

Meditasi

Gagal dalam pernikahan berarti ada masalah dalam diri sendiri. Meditasi adalah cara mengubah dari yang preya atau ke shreya/kemuliaan. Tujuan berpacaran adalah mencari pasangan hidup. Setelah itu harus dilanjutkan bagaimana membsarkan anak menjadi manusia.

Jika perceraian terjadi kemudian kawin lagi, masih saja urusan diri. Banyak orang yang mencari pembenaran bahwa anak setuju bila menikah. Sayangnya, anak yang memberikan persetujuan demikin dapat dipastikan anak yang belum bisa memahami makna move on.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

14 − eleven =

Scroll Up