Gunung Meru sebagai Pusat Peradaban….

0 Ayur Hypnotherapy | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Gunung Meru

Gunung Meru atau mungkin dikenal sebagai Mahameru merupakan gunung tertinggi di dunia. Gunung Meru disebutkan dalam kisah sejarah Mahabarata. Dan ternyata gunung Meru adalah gunung yang kalderanya kita kenal sebagai Danau Toba sekarang. Gunung ini sudah meletus sebanyak 3 kali; 700.000 – 800.000 tahun yang lalu merupakan letusan pertama. Letusan ke dua 500.00 tahun yang lalu; Dan terakhir adalah 74.000 tahun yang lalu. Silakan baca sumber ini.

Bila melihat peta ribuan tahun yang lalu, 23.750 – 15.250 SM, Wilayah daratan membentang sangat amat luas. Silakan simat video ini:

Dengan menyimak video di atas, bisa digambarkan kembali bahwa sesungguhnya kita memiliki budaya seni yang sama. Hal ini tidak mengherankan karena ketika satu wilayah daratan seni budaya yang berkaitan dental kearifan lokal denken mudah tersebar. Dan ketika daratan yang sekarang disebut pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan memiliki kesamaan pesan kearifan lokal yang memiliki kesamaan. dari model cara memberikan salam atau ucapan salam yang saling mendoakan.

Pentingnya menghargai Budaya

Dengan memahami kesamaan pesan kearifan lokal, kita bisa saling mengingatkan bahwa akar budaya kita sama dan satu adanya; Pelestarian lingkungan demi terciptanya dunia yang damai dan indah. Makna kata ‘Budaya’ tidak berbeda di seluruh dunia. Silakan baca ini.

Pesan yang dituliskan pada lambang negara kita: “Bhineka Tunggal Ika” memiliki makna sangat dalam. Dengan merenungkan dan menggali lebih dalam, dan jangan lupa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak mungkin dikotak-kotakan dengan pengertian sempit. Pikiran sempit atau dangkal terjadi karena ketidakmauan dari diri sendiri untuk menggali lebih dalam pesan kearifan leluhur kita.

Kebodohan

Yang disebut dengan bodoh bukan karena tidak tahu, tetapi tidak mau tahu. Tidak mau belajar dan memaknai yang sudah terbukti nyata manfaatnya merupakan kebodohan. Pelajari kembali sejarah. Namun bukan sekedar menghapalkan tahun kejadian, tetapi makna yang tersirat.

Pengulangan peradaban juga terjadi terus menerus karena kita tidak mau tahu mengenai kesalahan masa lalu. Ini yang kita alami saat ini.

Pesan moralnya adalah bahwa kita harus menggali ke dalam diri sendiri sebleum menuding kesalahan orang lain.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

six + 4 =

Scroll Up