Hanya orang edan yang pilih kitab…..

Saya memilih tidak melanjutkan isian alias titik-titik. Jika ada yang melanjutkan isian itu, itu tafsiran sendiri. Dan itu tanggung jawab anda sendiri.

Memilih isian pun atas dasar kesadaran sendiri.

Makanan adalah Tuhan. Saat kita kelaparan kemudian disuruh memilih antara kitab ….. Dan makanan, dapat dipastikan pilih makanan. Tidak salah bukan? Ketika perut kenyang baru bisa berkata mencintai Nya. Saat perut lapar, tidak laku yang namanya Tuhan. Tuhan tidak ┬ábisa mengenyangkan perut.

Inilah sebabnya cakra pertama adalah makanan. Cakra dasar. Baru setelah itu cakra seksualitas. Dan selanjutnya. Urutan cakra sesungguhnya menggambarkan tingkat kesadaran manusia. Ketika perut kenyang, nafsu mulai naik. Setelah nafsu baru mencari aktualisasi diri. Kenyamanan dan keamanan.

Setelah terpenuhi semuanya barulah seseorang bisa mulai mengasihi. Inilah cakra ke 4. Cakra ke lima berkaitan dengan kelulusan atau kesempurnaan seorang anak manusia menjalani kehidupan.

Mata ke tiga berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk memilih dan memilah sehingga bisa melampaui kebaikan dan keburukan. Mata ke 3 tidak berkaitan sesuatu yang bagaimana dan hebat; apalagi bicara tentang kesaktian. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kedigdayaan maupun kesaktian masih urusan badan kasar atau lapisan luar. Masih ranah ego. Belum masuk ranah spiritualitas. Spiritualitas berkaitan dengan jiwa. Tidak dengan kehebatan seseorang.

Menyadari bahwa diri adalah sang jiwa bisa menjadikan seseorang sebagai saksi. Saksi bahwa segala sesuatu di alam benda bersifat tidak abadi. Ketergantungan pada alam benda menjadikan seseorang masuk alam penderitaan. Banyak sudah para suci dan avatar mengingatkan hal tersebut.

Tiada sesuatu yang baru di alam ini. Semuanya serba pengulangan. Banyak orang tidak bisa belajar sejarah. Belajar sejarah bukanlah belajar tentang tahun kejadian tetapi memahami tentang kejadian masa lalu dan kemudian melakukan antisipasi agar kejadian buruk tidak terulang lagi saat ini.

Kita sudah memahami bahwa mencintai benda sangat kuat menjadikan kita terikat pada bendawi. Dan di saat kematian tiba kita menderita. Namun demikian kita masih saja menuhankan benda. Mungkin ada yang mengatakan bahwa tadi disebutkan bahwa makanan adalah Tuhan. Tepat sekali. Tetapi jangan sampai jika sudah terpenuhi makan, kita terus bergantung dan hanya memikirkan makanan. Makan untuk hidup. Bukan hidup untuk makan.

Tetapi pada umumnya kita terjebak pada yang terakhir. Kita bisa mengejar kenikmatan indrawi pencecap sampai jauh. Tetapi di sisi lain saat seseorang mengingatkan bahwa sang jiwa kurus kering, kita enggan melakoninya. Kita jadi budak panca indra. Kita pikir cukup hanya dengan ritual tubuh kita bisa bebas dari penderitaan duniawi.

Kita memiliki ke cenderung an untuk mengutamakan tampilan luar. Kita masih saja menuhankan ritual badaniah. Menyadari hubungan diri dengan lingkungan sering kita abaikan. Kita bahkan lupa bahwa makanan yang akan memasuki tubuh semestinya terlebih dahulu dipersembahkan kepada Tuhan. Inilah sebabnya para suci mengajarkan berdoa terlebih dahulu sebelum makan.

Orang luhur mempersembahkan makanan kepada Tuhan kemudian yang kita santap adalah sisa persembahan kepada Tuhan.

Inilah kearifan para luhur yang sudah menyadari bahwa tubuh adalah kuil atau persemayaman Tuhan.