Indahnya kematian……….

Mati sebagaimana proses alam adalah suatu tahapan yang harus dilalui. Tampaknya, kematian atau kemusnahan sesuatu adalah tahapan untuk peningkatan lebih lanjut. Tanpa adanya proses ini, segala sesuatu menjadi konstan. Menyukai suatu barang saja akan jadi membngungkan bila tidak ada akhirnya. Orang tersebut tidak akan berpindah rasa sukanya pada yang lainnya. Segala sesuatu yang musnah kemudian berganti wujud. Dan kemudian wujud baru muncul. Bayangkan jika tidak ada proses pemusnahan atau kematian, semuanya tetap. Tiada barang baru………

Demikian juga kematian pada manusia merupakan proses Ilahiah. Pada tahap jelang kematian itulah, seseorang diberikan evaluasi atas segala perbuatannya di bumi. Selama tubuh masih hidup, apakah kehidupannya sudah dilalui sebagaimana tujuan utama kelahiran. Bila belum sesuai dengan tujuan kelahirannya, mencari pengalaman bagi ciptaan Nya sendiri, ia tidak akan sadar. Adanya kesadaran terhadap kesalahan yang dilakukan selama hidup di dunia, membuat dirinya ingin memperbaiki. Walaupun realitanya seringkali hal ini dilupakannya juga sehingga seringkali mengulang pengalaman masa lalu.

Sangat berbeda dengan proses pada hewan. Banyak sudah dinyatakan dalam kitab-kitab yang ditinggalkan para suci atau avatar bahwa pengalaman mind dalam tubuh manusia sudah berulang kali lahir dan mati. Hewan hanya mengalami kenaikan kualitas mind. Tidak ada proses pengulangan hidup pada hewan. Beda pada manusia proses pematangan mind terjadi berulang kali. Hal ini terjadi mungkin disebabkan kesempurnaan mind manusia.

Mind manusia adalah pencipta bagi ketidaksadaran atau pun kesadarannya sendiri. Inilah sebabnya disebut ‘manusia’. ‘Manas‘ berarti mind atau gugusan pikiran. Dan ‘Isya‘ berarti Tuhan. Kesempurnaan ini bisa membuat manusia cepat menggapai alam keilahian atau sebaliknya. Yaitu memperlambat proses penyatuan dengan alam.

Tahapan kematian adalah tahap yang harus dilalui oleh semua benda. Benda mati pun akan mengalami perubahan. Pohon sudah tua kemudian mati. Batang dan daun membusuk kemudian mengalami daur ulang menjadi bentuk lainnya.

Demikian juga mind manusia. Tubuh mati di suatu negara atau tempat, bisa saja sang mind harus lahir kembali di tempat lainnya. Ia akan mencari badan baru dan berhubungan dengan tubuh lainnya. Ia dalam proses mengumpulkan pengalaman. Ibaratnya seorang pencipta kendaraan bermotor. Ia akan berulang kali lahir dan mati untuk menjalani obsesinya.

Kecuali sang mind sudah bosan dan berhenti berpetualang. So, sehingga yang menentukan permainan kita adalah kita sendiri juga. Jika mind  manusia sudah jenuh akan kehidupan, ia dengan rela melepaskan keterikatan pada dunia. Saat itu mind yang sudah sadar atau mengalami kebudhaan tidak terikat lagi dengan sanak keluarga, kendaraan atau wanita istrinya. Mind nya mencair dan menyatu dengan alam. Gumpalan mind sudah melumer dan menyatu dengan alam. Hilangnya rasa keterikatan ini membuat seseorang dengan mudah lepas dari mind serta kemudian melanjutkan proses berikutnya.