Instink hewani harus dilepas

0 Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Instink Hewani

Instink hewani berasal dari otak reptilia. Makan, minum, tidur, dan seks merupakan instink bawaan dari otak reptil yang merupakan bagian otak manusia. Limbik adalah bagian otak yang sejenis dari otak mamalia. Otak yang baru disebut neocórtex.

Kita semuanya hidup atas dasar otak reptil; ini memang alami. Namun demikian, adalah tujuan keberadaan manusia di bumi melampaui sifat instink hewani untuk menjadi manusia.

Sebutan Manusia

Kata ‘manusia’ terdiri dari dua suku kata: ‘MANAS’ dan ‘ISYA’. Sebagaimana yang disampaikan oleh Guru saya berarti seseorang yang bisa menguasai pikirannya (manas). Kenapa harus dikuasai atau dikendalikan?

Bila kita amati, sumber masalah adalah pikiran, otak hanyalah alat untuk mengekspresikan segala hal yang dipikiran. Keadaan kita sebagaimana sekarang ditentukan oleh:

  • pengalaman + pengalaman
  • pengalaman = perbuatan + perbuatan
  • perbuatan = ucapan + ucapan
  • ucapan = pikiran + pikiran

Inilah alasan bahwa pikiran harus dikuasai atau dikendalikan. Bila seseorang bisa mengendalikan gerak pikiran,  baru bisa disebut sebagai MANUSIA.

Dihilangkan?

Menghilangkan instink hewani merupakan sesuatu yang tidak mungkin selama tubuh ini masih berada di dunia, namun bisa dilampaui. Artinya kita tidak berada di bawah kendali kenyamanan indrawi.

Makan dan minum masih dibutuhkan oleh badan yang harus tetap sehat sehingga bisa DIGUNAKAN untuk sesuatu yang mulia. Untuk itu, asupan bagi tubuh juga harus selaras dengan sifat alami manusia. So, dalam hal ini ‘rasa atau taste makanan bukan menjadi tuan, tetapi kualitas makanan baik bagi perkembangan kualitas pikiran. Pendek kata, bila mau menjadi MANUSIA jenis atau kualitas makanan bisa menyehatkan otak.

Kenyamanan tubuh atau bisa diganti dengan kenyamanan memang dibutuhkan selama tidak memaksakan atau dalam batas moderat; yang sedang-sedang saja.

Dilampaui?

Ya, hanya bisa dilampaui. Kita tidak mengutamakan sensasi kenyamanan indrawi dalam segala hal ketika berinteraksi di dunia.

Ada seseorang yang amat kaya mengatakan: ‘Kalan mau makan enak rasa mandarin yang di Singapura’. Ia bisa pergi ke restoran yang enak di sana. Atau seseorang berburu kuliner jenis tertentu ke tempat yang jauh, dan harus menunggu sekian jam untuk antri. Ini yang disebut masih belum bisa melampaui instink hewani; bahkan hewan pun makan bila mereka lapar.

Mungkin bukan rasa, tetapi lebih pada rasa prestise atau kebanggaan bila bisa show off bahwa ia bisa makan enak di tempat yang jauh. Celakanya, kadan rasa nikmat makanan hanyalah sebatas ujung lidah. Perut tidak butuh rasa; kualitas asupan yang tepat untuk menunjang evolusi Kesadaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × 1 =

Scroll Up