Kebangkitan Kesadaran Spiritual

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Kesadaran Spiritual

Kebangkitan Kesadaran Spiritual bukanlah kebangkitan kemampuan untuk melihat makhluk halus atau menerawang masa depan atau masa lalu. Kemampuan melihat masa lalu hanyalah kemampuan untuk melihat rekaman energi seseorang di masa lalu. Kesadaran Spiritual merupakan suatu kesadaran bahwa segala hal yang di alam ini tidak hilang. Hanya berubah bentuk.

Dan uniknya rekaman semua bentuk energi tidak hilang. Untuk lebih jelasnya, silakan baca ini dan juga ini. Setiap benda yang pernah ada di bumi ada rekam jejaknya. Sesungguhnya alam ini merupakan pusat informasi rekaman masa lalu. Saya pernah membaca dari buku Bhagavat Gita by Anand Krishna, www.booksindonesia.com:

Segala sesuatu yang pernah ada akan terus ada. Dan tidak pernah ada juga tidak akan pernah ada (Kurang lebih)

Kemampuan kesadaran spiritual terjadi ketika kita menyadari bahwa kita semuanya hidup dalam kesatuan energi yang sama. Kesadaran yang menuntut kita bertanggung jawab atas segala perbuatan kita terhadap alam. Mungkin ada satu kata yang diungkapkan dengan kalimat berbeda: ‘Berdoalah seakan kita dilihat oleh Nya’

Mari kita simak video di bawah ini:

Implementasi

Dalam keseharian yang dimaksudkan dengan berdoa atau bersembahyang bukanlah hanya minta ini dan itu. Segala bentuk permintaan sesungguhnya hanyalah bentuk memperendahkan diri sendiri. Kita lupa bahwa dalam setiap diri eksis kemuliaanNya. Sebagai pemilik alam ini, yang bisa dilakukan hanyalah memelihara yang di alam ini.

Berbagi kemuliaan diri merupakan bukti bahwa kita sedang dalam perjalanan menuju untuk menjadi Manusia. Dalam buku pustaka Hindu disebutkan bahwa tujuan utama kelahiran manusia adalah menjadi manusia. Mungkin timbul sanggahan: ‘Bukankah kita sudah manusia? Mengapa harus menjadi manusia?’

Boleh saja kita mengaku sebagai manusia; Tetapi benarkah dalam diri kita sudah bangkit Kemanusiaan kita? Inilah tujuan utama manusia. Bangkitnya kemanusiaan dalam diri kita dikaitkan dengan ini.

Ketika kita mencari kenyamanan lidah sekedar untuk memenuhi kenikmatan indra pencecap, maka kita belum bisa menjadi menusia seutuhnya. Kita masih melakukan kekerasan terhadap sesama mahluk hidup demi kenyamanan atar kenikmatan indrawi. Lebih parah lagi kita mengatakan bahwa kita menyembah Sang Pencipta Hidup tetapi kita mengorbankan makhluk hidup lain dengan mangatasnamakan bahwa kita patuh perintah Nya. Inilah yang disebut …..

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 − nine =

Scroll Up