Kebodohan dibalik Keberanian……

0 Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Kebodohan

Dalam keseharian kita sering melakukan kebodohan yang ditutupi seakan berani. Saat sekarang ketika wabah virus corona merebak dengan cepat, banyak kaum yang mengaku agamis mengatakan tidak takut virus corona tetapi takutlah pada Tuhan. Tidak salah hal ini dikemukakan, tetapi benarkah ini keberanian?

Pada umumnya kita akan cepat meganggapi dengan reaktif. Dalam arti langsung dengan frontal menyanggah: ‘Dasar bego!!!’

Beda dengan tanggapan seorang yang sudah jernih pandangannya. Hal seperti ini malah didukung; ‘Bagus, tetapi seharusnya mereka tidak hanya bicara. Turunlah dengan tindakan dengan menjadi sukarelawan membantu tenaga medis yang amat sangat kerepotan merawat para pasien Corona.’

Cerita menggelikan

Ketika seseorang anak muda bepergian di saat seharusnya berdiam di rumah untuk isolasi demi tidak menyebarkan Covid 19, seseorang bertanya: ‘Tidak takut Corona?’ Dengan arogan ia menjawab: ‘Takut itu pada Tuhan, bukan pada Virus Corona’

Dan ia dengan gagah berani melompat mengendarai motornya.

Beberapa saat kemudian si pemuda balik. Si Bapak yang menegur bertanya: ‘Mengapa balik?’

Dengan pucat si pemuda menjawab: ‘Ada razia….’

Inilah contoh kebodohan nyata di sekitar kita.

Keberanian…

Seseorang yang berani tidak butuh pamer. Mereka memiliki intelejensia. Bukan ditunjukkan diselimuti intelektual. Contoh:

Di jalan raya kita sering melihat seseorang berkendara tanpa lampu ada waktu malam hari. Tindakan ini jelas membahayakan bagi kendaraan yang berlawanan arah. Bagi si pengendara motor tidak berbahaya karena ia masih bisa melihat dengan bantuan cahaya yang berlampu.

Bagi si pengendara tanpa lampu merasa bangga. Dianggap hal seperti ini keberanian. Namun tanpa sadar ia menunjukkan kebodohan dengan abai terhadap keselamatan orang lain.

Keberagamaan

Kebergamaan adalah kata sifat, Sedangkan Tuhan adalah kata benda. Bila seseorang sudah memiliki sita keberagamaan, maka dalam berbicara, berpikir serta berbuat dilandasi sifat mulia Tuhan, menyatukan. Berpikir, berkata serta berbuat demi kepentingan umum.

Sedangkan mereka yang mengaku percaya Tuhan sesungguhnya belum percaya. Tuhan bukan benda yang dapat atau perlu dipercaya. Bukti kepercayaan adalah perbuatan. Bukan kata, tetapi akurat perbuatan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × two =

Scroll Up