Kejahatan karena Kebergantungan pada yang Tidak Abadi…

Kasih Ku bagi para panembah, membebaskan mereka dari kuasa jahat;

Kusirnakan kejahatan untuk melindungi mereka yang hidup sesuai dengan kehendak Ku.

( A Handful of Gems from The Holy VEDAS, Centre for Vedic & Dahrmic Studies)

Dengan berkembangnya pemahaman tentang Tuhan atau Allah atau Hyang Widhi atau apapun sebutan bagi Sang Energi Agung, yang dimaksud dengan menyembah Tuhan sesungguhnya selaras dengan ayat dari salah satu kitab suci. Dan juga kitab suci lainnya menyebutkan hal yang sama.

Menyembah berarti mengagungkan dzat Yang Maha Agung. Mengagungkan bermakna bahwa kita percaya pada kekuatan Nya. Percaya berarti bahwa dalam hati kita hanya ada nama Dia. Jika dalam hati serta seluruh perhatian kita hanya ada kesucian Nya, dengan sendirinya kita bebas dari kuasa jahat. Mengapa????

Kuasa jahat menang jika kita masih percaya bahwa ada kebahagiaan yang bisa didapatkan dari luar diri kita. Saat kita percaya bahwa ada suatu yang tidak langgeng bisa membuat hati kita bahgia, sesungguhnya kita belum memahami makna bahagia.

Kata bahagia tidak memiliki lawan kata. Mungkin hal ini meleset dari pengamatan kita. Kata ‘bahagia’ bukan lawan kata dari sedih. kata sedih memiliki lawan kata senang. Sama-sama satu kata. Lawan kata bahagia adalah tidak bahagia. Terdiri dari dua kata. Berarti sebenarnya bukan lawan katanya. Perhatikan kata siang; lawan katanya malam. Sakit lawan katanya: sehat. So, tidak adanya padanan lawan kata dari satu suku kata menjadi bukti bahwa bahagia adalah sesuatu kata yang tunggal. Dengan demikian perasan bahagia juga hanya dapat diperoleh dari sesuatu yang tunggal; Tuhan.

Saat kita tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, kita kecewa. Ketika kita mendapatkan sesuatu yang kita dambakan kita lega. Kelegaan ini tidak bersifat lama. Hanya berlangsung beberapa saat. Semakin lama semakin memudar. Tidak abadi sifatnya.

Suatu hal yang wajar bahwa rasa lega bisa luntur, karena yang kita inginkan juga suatu benda yang tidak langgeng. Rasa bahagia yang bersifat langgeng tidak bisa dipenuhi oleh perolehan sesuatu yang tidak langgeng. Segala bentuk benda di bumi tidak abadi. Senantiasa berubah.

Kita bisa terbebaskan dari kuasa jahat karena kita manembah kepada Dia. Seseorang yang manembah berarti seluruh fokus perhatiaannya hanya kepada yang disembah. Dengan sendirinya, kita tidak terpecahkan perhatian pada selain Tuhan.

Saat kita berpikir, berucap dan berbuat selaras dengan kehendak Nya, kita akan terselamatkan. Pertanyaannya: ‘Apa yang disebut hidup selaras dengan Nya?’

Hidup selaras dengan sifat Nya adalah hidup selaras dengan sifat alam. Selaras dengan sifat alam berarti menjalani hidup bukan mementingkan diri sendiri. Saat kita diberi kehidupan oleh alam, kita juga memberikan perhatian yang seimbang pada alam sekitar kita. Kehidupan kita sangat bergantung pada air, sebagai balasan kita juga memberikan perhatian pada keberadaan air sekitar kita. Konkritnya, janganlah membuang air secara sia-sia. Habiskanlah minuman, jangan biasakan membuang air minum secara sembarangan. Dengan menghargai air, kita melakukan panembahan kepada Dia Sang Pemilik alam semesta.

Kejahatan terjadi ketika hati kita hanya bergantung pada sesuatu yang tidak abadi. Ketika keinginan kita terhadap sesuatu begitu besar sehingga kita lupa bahwa ada sesuatu yang lebih mulia dalam diri kita, kejahatan mulai berkuasa. Hal ni bisa terbebaskan ketika hati kita berkembang rasa kasih terhadap Dia. Wujud nyata dari rasa kasih Nya adalah kasih terhadap sesama dan lingkungan kita.