Kemanusiaan

0 Filsafat | Inspirasi | Kesehatan | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Kemanusiaan

Selama ini sesungguhnya kita belum memahami makna kemanusiaan.Saya kutipkan lengkap dari buku This is Truth That too is Truth by Anand Krishna:

Hukum adalah buatan manusia, kemanusiaan adalah ilahi. Hukum tidak selalu selaras dengan kemanusiaan. Oleh karena itu, kemanusiaan tidak boleh kalah hukum yang kaku dan tidak manusiawi.

Arti dari kata manusia yang sesungguhnya terdiri dari dua kata: manas diambil dari kata mind atau pikiran. Dan kata ke dua isya. Lihat di sini.

Landasan Hukum

Dari buku yang sama:

Segala peraturan, perundangan, dan bahkan hukum – seharusnya selaras dengan kemanusiaan dan nilai-nilai kemausiaan. Jika tidak, maka mereka harusnya diperbaiki atau sekalian saja dihapuskan.

Bila kita meninjau dasar negara kita, Pancasila, para leluhur kita telah memahami hal tersebut; Sila ke dua: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Oleh karena itu, Pancasila menjadi landasan setiap hukum atau peraturan di negara kita. Sayangnya, dalam implementasinya: ‘jauh panggang dari api’. Kita masih dalam kategori pemuja ritual. Kita meletakkan ritual sebagai tujuan dalam memeluk kepercayaan.

Hukum telah dijadikan alan untuk menindas hak azası manusia. Kita melupakan tujuan kelahiran kita.

Makna lebih luas

Sesungguhnya bila kita merenungkan atau menggali lebih dalam dari pemahaman arti kata manusia, kita bisa memperluas lagi. Tidak sekedar menghargai ‘manusia’, tetapi seluruh makhluk hidup, termasuk hewan. Bukan hanya itu, lingkungan juga termasuk.

Pandemic yang terjadi ketika tulisan ini dibuat merupakan akibat karena selama ini kita telah memenjarakan perasaan sebagai manusia seutuhnya. Kita belum mampu memperluas cara pandang kita sebagai makhluk yang dibekali neocortexHanya bila kita telah mengembangkan neocortex, kita telah menjadi manusia.

Memenjarakan Kemanusiaan

Pelajaran berharga dari pandemic Covid 19 adalah bahwa seharusnya kita menjadi manusia seutuhnya.

Kemunafikan

Demi memenuhi rasa kenikmatan lidah, kita mengabaikan nilai diri sebagai manusia. Berbagai tindakan kekejaman kita lakukan dengan mengabaikan hak hidup sesama makhluk hidup. Kita melupakan rasa kasih yang seharusnya menjadikan diri kita sebagai manusia yang utuh.

Bukan rasa kasih itu sebagai sifat utama Tuhan. Dalam berbagai tindakan kita mengucapkan ‘Atas nama Tuhan yang pengasih dan penyayang’, tetapi dalam tindakannya kita bahkan tega menghilangkan nyawa sesama makhluk hidup? Bukankah ini yang disebut sebagai kemunafikan?

Penjara Kemanusiaan

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight + nineteen =

Scroll Up