Kepuasan diri???

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Kepuasan Diri

Kepuasan diri. Diri yang mana? Selama kita belum memahami mengenai diri, kita terus akan terjebak di alam penderitaan. Kita mengejar kepuasan yang kita inginkan, pada akhirnya kita akan mengalami kekecewaan. Kita belum juga sadar bahwa penyebab utama penderitaan adalah keinginan yang tidak terpenuhi.

Keinginan untuk memenuhi kenyamanan indrawi bersifat sementara. Kita anggap terpenuhinya keinginan adalah kebahagiaan. Keinginan ada ketika kita masih pada kesadaran tubuh. Yang sering mengsalami penderitaan juga tubuh, mungkin emosi. Mengenai emosi, silakan baca ini. Bukan… Terpenuhinya keinginan hanyalah kelegaan yang sifatnya sementara.

Ya, dasar dari keinginan adalaha emosi rasa takut. Takut dari segala sisi. Takut dicemooh, direndahkan karena tidak memiliki baju, motor, hape dan lainnya yang ber-merk. Takut dianggap tidak berwibawa. Semua rasa ketakutan yang muncul dari rasa tidak percaya diri.

Kepuasan memberi

Ketika kita bisa memberi tanpa harapkan suatu pujian, kita akan merasakah suatu kepuasan. Kepuasan melihat orang lain bersyukur. Inilah kebahagiaan. Puas bukan karena pujian pada diri sendiri, tetapi puas karena bisa membuat orang lain bahagia.

Banyak dari kita senang dengan ‘sms’. Senang melihat orang lain susah/menderita. Ini sejenis penyakit di zaman NOW. Tanpa sadar kita sesungguhnya sedang sakit bila senang orang lain menderita. Kita katakan hal ini bagaikan bersuka ria di atas bangkai. Bila kita setuju bahwa hal ini sah, ketahuilah bahwa kita sedang sakit kronis.

Bila kita bisa memberi dan memberi, kita sedang menggunakan energi yang ada pada cakra ke dua, Svadhisthana Chakra untuk mengubah dari keinginan dasar menjadi energi kasih. Keinginan dasar kita adalah minta dan minta…

Kepuasan memberi dan memberi adalah implentasi dari kasih, Compassion. Ini terjadi bila kita benar-benar bisa mengasihi diri…

Ada 3 tahapan menuju energi kasih atau compassion. Tahap pertama atas dasar keinginan untuk memuaskan tubuh atau kepuasan indrawi. Yang lebih tinggi, kita meminta tetapi kita mengharapkan balasan. Seperti orang dagang. Yang terakhir adalah kepuasan dalam memberi. Ini disebabkan adanya dasar kebajikan yang sejati dari falam diri. Berperilaku baik karena dirinya baik.

Mari kita simak video di bawah ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen − 17 =

Scroll Up