Kesehatan bisa mencelakakan diri?

0 Filsafat | Kesehatan | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Kesehatan

Terdengar aneh, kesehatan malah mencelakakan diri. Tergantung dari cara pandang kita. Benarkah kita bersyukur atas berkah kesehatan yang kita peroleh; atau kita mengabaikan atas anugerah yang kita anggap biasa. Bila kita mensyukuri anugerah kesehatan, maka kita bisa berbagi sesuatu yang bermanfaat bagi sesama.

Ketika seseorang merasa sehat, ia mungkin bisa bebas memakan apa saja, dan pada akhirnya ia malah menderita sakit karena makan suatu jenis makanan yang bisa merusak salah satu organ dalam tubuhnya. Seseorang yang merasa sehat bisa bebas makan daging, namun ia tidak sadar bahwa makan daging atau hewan/makhluk hidup bukan alaminya.

Kesadaran Para Suci

Bila masih ada yang mempercayai bahwa ada seorang suci atau avatar bisa makan daging, saya akan sangat heran. Mengapa?

Karena bila demikian, ia belum menyadari kesatauan dan persatuan dengan alam semesta. Para suci atau avatar disebut demikian karena berarti mereka telah mencapai ketinggian kesadaran yang bahwa diri mereka adalah bagian dari keberadaan alam ini.

Banyak cerita ketika mereka dalam keadaan trans, mereka menjadi bagian dari Setiap kehidupan, termasuk menjadi bagian hewan. Mereka bisa merasakan penderitaan ketika senior hewan tersakiti. Lantas bagaimana mungkin mereka memakan hewan? Bukankah mereka juga pasti berprinsip tidak berbuat kekerasan?

Bila mereka hanya sekedar membunuh hewan kemudian untuk memuaskan indrawi kenyamanan lidah, mereka belumlah menjadi dewa Indra; tanga penguasa indra kenikmatan lidah.

Dengan kata lain, mereka belum pantas dianggap suci. Kecuali memang tidak ada jenis makanan yang bisa dikonsumsi untuk mempertahankan kehidupan. Misalnya yang ada di sekitarnya hanyalah tanaman yang cocok dimakan oleh sapi, dan demi mempertahankan hidupnya ia harus makan daging sapi. Atau demi melawan cuaca yang bila tidak konsumsi daging mengakibatkan kematian.

Bersyukur

Kesehatan butuh dan bahkan harus dipertahankan demi keberlangsungan hidup. Karena untuk lahir sebagai manusia pun merupakan anugerah yang amat sangat luar biasa; suatu peluang emas.

Berkah yang kita terima tersebut menjadi modal untuk berbagi serta meluaskan pikiran seperti samodra. Luas serta bisa menampung semua pendapat. Janganlah menjadi orang banyak pengetahuan, namun wawasan menjadi sempit. Ini bisa terjadi karena intelejensianya belum berkembang.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × one =

Scroll Up