Ketika diri merasa direndahkan atau dihina, sesungguhnya kita sendiri yang membuka peluang…….

Siapa yang bisa menghina jika bukan dirinya sendiri. Bagian manakah yang dapat dihina? Selama kesadaran yang diperolehnya masih pada lapisan kesadaran yang setara dengan orang yang ‘katanya’ menghina, hal ini bisa terjadi. Misalnya, ketika menanggapi komentar dari tulisan. Jika kita menulis sesuatu masalah, apakah kita bermaksud mendapat tanggapan atau tidak? Jika kita yakin terhadap tulisan kita, untuk apa harapkan tanggapan?

Tiada seorangpun bisa meningkatkan kualitas energi selain diri sendiri. Upayakan terjadinya peningkatan energi saat ada seorang yang menganggap kita rendah. Sesungguhnya saat kita bisa menghina orang lain, kita masih memliki kehinaan itu. Selama itu pula kita bisa menghina orang.

Satu pelajaran yang berharga dari nabi Isa. Ketika suatu saat beliau dicaci orang, beliau tidak membalasnya. Bahkan beliau terrsenyum dan berlalu. Ketika itu ada orang terheran memperhatikan respon nabi Isa. Kemudian orang itu bertanya, mengapa kau tidak membalas cacian orang tersebut? Beliau menjawab dengan tenang:’Aku sudah tidak memiliki mata uang selain kasih’. Dari sini sesungguhnya kita bisa merenungkan bahwa hanya orang yang memiliki simpanan kebencian dalam hatinya yang bisa membalas umpatan atau cacian. Jika hatinya dipenuhi oleh rasa kasih, tiada tempat bagi kebencian dalam hati.

Demikian pula dengan sufi wanita, Rabiah. Ketika seseorang bertanya, mengapa kau tidak membenci setan? Rabiah menjawab: ‘Seluruh hatiku sudah terpenuhi dengan cintaku pada kekasih, Dia yang Mahaindah’. Tiada lagi ruang bagi setan dalam hatiku. Bagaimana mungkin aku membenci setan?’.

Saya sangat amat yakin akan banyak yang mencibirkan bibir dan berkata: ‘Itu kan nabi serta sufi. Mana mungkin kita bisa?’ Jawaban itupun sah-sah saja. Tetapi kita mesti juga ingat bahwa dalam satu ayat dari salah satu kitab yang ditinggalkan oleh nabi atau rasul berbunyi: Tiada mungkin suatu bangsa berubah jika bukan karena upaya dari bangsa itu sendiri. Bukankah ini janji dari Dia? Mengapa masih juga ragu? Dengan keraguan ini sesungguhnya kita tidak lagi percaya pada firman Nya? Bukankah ini yang disebut khufur. Hati yang tertutup hanya karena kemalasan kita sendiri. Jika masih mengabdi pada kemalasan diri, bagaimana mungkin mengaku sebagai abdi Nya?

Manfaat apa yang bisa diperoleh dengan tetap berhamba pada kemalasan diri sendiri? Mengapa kita sangat senang memelihara hidup dalam kerugian? Jangan salahkan setan. Inilah bukti kemalasan diri, selalu saja cari pembenaran dengan cara menyalahkan orang lain. Jadi nabi bagi diri sendiri berarti tidak lagi mencari kesalahan pada orang lain. Setiap kejadian yang menimpa kita adalah bukti kelalain diri sendiri. Taubah berarti kembali ke dalam diri. Bukan lagi melihat keluar diri.

Memang tidak mudah, tetapi jika amat sangat sulit sehingga tidak bisa dilakukan oleh manusia, mengapa diberitahukan? Karena Dia sampaikan, maka cara untuk mencapainya pasti ada. Melawan ketidakberdayaan diri sendiri. Jangan melihat keburukan orang lain. Cari dan benahi keburukan diri sendiri…..