Ketika sang ego ingin tetap berkuasa, maka tiada kehadiran Master

0 Filsafat | Kesaksian | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Kehadiran Master

Ada atau tidak kehadiran Master sangat bergantung dari penerimaan kita. Ketika tiada penerimaan, maka hati tetap tertutup. Seorang Master akan selalu ada untuk membimbing. Bimbingan untuk menyalakan serta menjaga pelita Kesadaran. Kesiapan diri untuk menjadi murid yang dibutuhkan. Saya juga baru menyadari hal ini setelah melakoni berguru. Ternyata memang tidak mudah. Ego memang harus dipotong atau dipenggal.

Adalah suatu kewajaran penolakan, karena inilah sifat ego yang senantiasa ingin berkuasa. Tidak salah, sebab ini huga permainan Nya. Panggung sandiwara akan tutup, kemudian tidak ada permainan di panggung dunia bila setiap orang mengakui adanya Guru sejati.

So, keberadaan seorang Master akan selalu ada karena tanya dari seorang Master pengetahuan sejati disalurkan. mater adalah seorang yang telah mengalami. Dan biasanya penolakan selalu muncul dari dalam diri kita sendiri. Ego yang selalu ingin berkuasa.

Pengetahuan sejati sangat mudah diperoleh dari berbagai buku. Sayangnya keadaan ini merugikan karena akan menjadi bahan bakar bagi ego spiritual. Pengetahuan sejati tidak berguna bila tidak dilakukan di bawah bimbingan seorang Master yang memang telah mengalami.

Kenyamanan

Kehadiran Master akan sangat mengusik ego. Kemalasan untuk bertemu secara fisik dengan seorang Master akan sangat membantu terjadi transformasi dari intelektual ke buddhi atau intelejensia. Rasa malas ini sering timbul dengan warna atau alasan bahwa tidak ada lagi seorang master di dunia ini. Singkat kata, ibaratnya; walalupun ada botol di depan kita, tetapi bila pikiran menolak, maka kita akan tetap mengabaikan.

Kehadiran seorang akan sangat mengganggu kenyamanan indrawi. Karena di saat kita ingin jalan-jalan ke mall untuk cari makan enak atau mencari kenyamanan indrawi lainnya harus disingkirkan demi terjadinya transformasi diri. Ketersediaan diri untuk mengikatkan diri dengan seorang master adalah kebebasan. Amat sangat tidak nyaman bagi sang ego untuk dipenggal..

 Keberadaan Master

Sangat mudah mengaku berguru dengan seseorang yang sudah meninggal. Karena tidak ada beban untuk tunduk. Dan ini yang disukai oleh sang ego. Dan sang ego merasa bebas berbuat apa saja. Ia merasa bahwa ia bebas melakukan apa saja. Ia merasa tidak butuh bimbingan karena banyak buku yang mengatakan bahwa sang guru sejati ada salami diri sehingga tidak butuh guru di luar diri.

Kita lupa bahwa untuk bisa membaca  pun kita butuh bimbingan seorang guru, apalagi sesuatu yang ada dalam diri. Banyak jebakan yang tidak kita ketahui. Suara atau bisikan yang menjauhkan kita dari seorang guru sejati selalu ada. Dan ini memang disukai oleh sang ego…

Anehnya, bagi para pemula, seorang master sejati selalu berkata, Guru Sejati ada dalam diri, jadi ga perlu berguru dengan orang lain. Inilah jebakan bagi sang ego. Seorang Guru Sejati mengetahu dengan tepat bahwa keberadaan master amat sangat dibutuhkan dalam menapak di dalam hutan yang penuh duri dan semak belukar.

Penolakan kehadiran master menjauhkah diri dari moksha….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 + 7 =

Scroll Up