Kewarasan pikiran atau kesehatan tubuh yang didahulukan?

Jika Anda tidak bisa mengurusi badan fisik Anda, Anda tidak bisa mengurusi mind (gugusan pikiram dan persian) Anda. Dan, jika Anda tidak bisa mengurusi mind Anda, Anda tidak akan pernah menjadi cukup intelijen untuk memasuki ranah jiwa.

(This is Truth That too is Truth by Svami Anand Krishna)

Merenungi kalimat-kalimat di atas, saya menjadi agak bingung. Seseorang bisa mengurusi tubuh dengan baik bila ada kesadaran bahwa tubuh kita sebagai kuil Tuhan. Kesadaran dari mind akan hal ini akan mendorong kita untuk mengurusi tubuh agar sehat. Saya ingat perkataan Master saya: ‘Jika kamu sakit, tidak ada gunanya.’ Karena kita akan menjadi beban bagi orang lain. Celakanya lagi, ketika kita sakit akan membebani orang lain. Ini sakit fisik. Bagaimana jika sakit pikiran?

Sakit pikiran berarti kita tidak mau tahu tentang efek kebodohan kita terhadap orang lain. Misalkan, kita di kantor tidak memahami kerja suatu alat, dapat dipastikan kita akan bertanya terus menerus. Jika kita tidak juga segera paham atau mengerti kerja alat, kita akan membuat orang lain terbuang waktunya karena harus membantu kita menjelaskan. Hal ini menurut hasil penelitian juga membuat orang lain menjadi stres, kemudian jatuh sakit secara fisik.

Tubuh yang kurang sehat akan sulit berpikir jernih. Apalagi bila usia lanjut. Seluruh kesadaran kita terbebani untuk mengurusi kesehatan. Karena hanya sibuk mengurusi kesehatan tubuh kita, maka fokus untuk kesadaran pengembangan evolusi jiwa terganggu. Akibatnya, kita tidak memiliki cukup waktu memahai tujuan kelahiran. Betapa meruginya lahir.

Sedangkan kalimat di atas menyebutkan: ‘Jika Anda tidak bisa mengurusi badan fisik Anda, Anda tidak bisa mengurusi mind …’ Artinya, tubuh dahulu harus sehat, baru mind ter-urus. Pada hal, tanpa adanya kesadaran dari dalam (mind) akan pentingnya urusan tujuan kelahiran, kita tidak akan memberikankan asupan makanan agar tubuh tetap terjaga baik. Asupan baik bagi perkembangan evolusi jiwa, bukan hanya sehat fisik tetapi emosi tidak.

Ada korelasi timbal balik antara emosi dan tubuh. Orang gila bertubuh sehat, tetapi secara emosional/mental tidak sehat. Jiwa atau emosional/mental sehat, dapat dipastikan tubuh sehat. Sehat emosional/mental akan mendorong seseorang berpikir sehat. Berpikir sehat berarti mengutamakan kepentingan orang banyak. Seseorang yang mengutamakan kepentingan golongan, kelompok atau diri sendiri tidak bisa dianggap memiliki cara berpikir sehat. Ia seorang yang sakit. Sakit pikiran adalah saat ego menguat.

Mereka yang sakit mental/emosi adalah yang hanya memikirkan kepentingan sendiri, termasuk golongan serta kelompoknya. Mungkin ada yang membantah: ‘Ah itu hanya pendapat anda saja!!!’ Dan secara otomatis tubuhnya juga menuju ke arah tidak waras.

Pendapat tersebut sah-sah saja… Bagi saya; cara berpikir sehat adalah bila disertai intelejensia, kecerdasan alam. Bagi orang yang hanya mementingkan golongan, kelompok atau diri sendiri belum beranjak dari ranah intelektual. Pola pikir yang hanya berpihak pada satu bagian, bukan kepentingan umum.

Kita semua disatukan oleh medan energi yang satu dan sama. Alber Einstein mengatakan bahwa kita semua disatukan oleh medan energi kehidupan yang satu dan sama. Unified field of Energy. 

Tampaknya untuk menyadari manakah yang lebih terdahulu muncul, kita mesti menarik kesadaran kita lebih tinggi. Dengan kata lain, ada suatu kesadaran yang mengingatkan beyond  ke duanya. Kesadaran Intelejensia ini selalu mengingatkan akan pentingnya peningkatan evolusi jiwa. Sayangnya, semakin tumbuh dewasa seseorang, kesadaran Ilahi atau intelejensia ini semakin kabur suaranya. Hijab terus tumbuh subur sebagai akibat pencemaran dari pergaulan…

Oleh karena itu, adanya pergaulan bajik sangat dibutuhkan. Bajik bermakna selaras dengan kebijakan alam. Selaras dengan tujuan utama kelahiran manusia…

Semoga kita semua senantiasa sadar akan tujuan utama kelahiran kita di muka bumi…….