Kitab Suci bukan tujuan

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Kitab Suci

Tanpa sadar kita telah terperangkap sebagai penyembah kitab suci. Selama ini kita anggap pesan yang disampaikan oleh para suci sebagai sesuatu yang harus kita patuhi secara buta. Kita semua tidak satu pun tahu dengan pasti bahwa segala yang tertuliskan dalam kitab suci benar-benar yang disampaikan oleh seseorang yang kita anggap sebagai panutan.

Celakanya lagi, kebanyakan dari kita telah meletakkan kitab suci di suatu tempat, dan kemudian kita memujanya dengan dupa. Kita menyembahyanginya. Hal Ini dilakukan bukan hanya satu kelompok keyakinan tertentu. Mungkin dalam bentuk lain. Misalnya, ada kelompok lain merasa terhina ketika kitab yang dianggap suci dibakar atau diinjak.

Kemarahan yang timbal karena merasa dihina atau dilecehkan karena kitab yang dianggap suci direndahkan. Mereka lupa bahwa mungkin beberapa saat yang lewat, mereka juga menghina bahwa keyakinan lain dianggap menyembah berhala yang berupa patung. Mereka dengan pongah mengatakan bahwa benda koq dipuja. Namun ketika kitab yang dianggap suci olehnya dibakar atau diinjak, ia menjadi marah. Bukankah ia juga tanpa sadar menjadi penyembah benda mati?

Jadilah Suci

Kitab suci tidak akan menjadi suci tanpa kita melakoni yang terdapat dalam kitab tersebut. Bila hanya membela dengan merasa dihinakan bila kitab yang kita puja dibakar atau diinjak, kita telah menjadi penyembah benda atau berhala. Para suci juga demikian. Mereka melakoni yang disampaikan dalam kitab bukan hanya berbicara.

Para suci menjadi idola kita karena yang mereka lakukan bukan hanya berwacana. Para avatar atau para suci melakoni segala kebaikan. Mereka berbagi pengalaman segala sesuatu kebaikan bukan hanya untuk dipamerkan. Karena mereka sadar bahwa hal tersebut membuat mereka bahagia. Dan rasa bahagia itulah yang mereka bagikan. Sekali lagi saya katakan bahwa mereka berbagi yang dialaminya. Sehingga kemudian mereka sampaikan. Dan oleh sebagian orang ditorehkan pada kulit atau media lainnya agar dibaca oleh orang lain.

Kita harus meniru yang mereka lakukan dengan cara melakoni pesannya agar juga menjadi bahagia seperti mereka. Kita akan menjadi dungu bila menganggap benda dalam bentuk kitab sebagai tujuan. Namun demikian, kita juga tidak bisa melakoni yang tertulis di dalam nya secara membabi buta. Kita harus menggunakan neo-cortex agar menjadi bijak.

Mariah kita simak dengan seksama video yang menjelaskan secara detail:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen − 6 =

Scroll Up