Kunci Hidup Bahagia

0 Filsafat | Inspirasi | Meditasi | Pengembangan Diri No Comments

Kunci Hidup Bahagia

Kunci Hidup Bahagia bisa diperoleh bila kita benar-benar mengasihi/mencintai Tuhan. Selama ini kita anggap kita bisa mencintai Tuhan dengan memeluk dan menganut suatu kepercayaan tertentu. Mungkin suatu ajaran dari daerah tertentu, bisa dari Timur tengah atau India atau Eropa atau China.

Celakanya lagi ketika kita menganggap bila kita sudah menjalani segala sesuatu yang diajarkan dalam kitab yang kita anggap suci, kita bisa menghuni suatu tempat yang nyaman setelah kematian. Kita belum memahami bahwa kitab tidak bisa mensucikan kita bila kita tidak melakoni yang dituliskan secara tepat. Bukan dengan kebenaran tafsirannya sendiri.

Kasih

Kasih berarti memberi. So, bila kita sungguh-sungguh mengasihi seseorang berarti kita hanya bisa memberi dan memberi. Inilah Kunci Hidup Bahagia. Saat itu hanya ada satu keinginan, yaitu memberikan sesuatu yang membuat yang dikasihinya bahagia. Bagaikan seorang ibu. ia hanya memberi dan memberi. Bukankah sifat alam pun demikian?

Bumi, air, angin, matahari memberikan kita kehidupan ini. Tiada sekalipun mereka ngambek. bila sekali saja ngambek, dan kemudian tidak terbit atau air berhenti mengalir, kita semua akan menderita. Sayangnya, kita lupa menghormati alam. Kearifan lokal kita Nusantara telah mencapai ketinggian tersebut. Sering kita anggap bahwa leluhur kita penyembah berhala.

Penderitaan

Rasa penderitaan sebagai akibat kita belum memahami rahasia Kunci Hidup Bahagia, bersyukur. Pernahkah kita mencintai Tuhan?

Kita selalu menganggap orang lain lebih buruk dari kita. Dan saat kita menganggap kita lebih dekat dengan Tuhan, kita memiliki kecendrungan Tidak mencintai lingkungan. Mengapa?

Karena ‘merasa lebih dekat’ adalah buat pikiran. Dan saat itu kita dikuasai oleh pikiran atau mind. Hal ini terjadi karena kita belum sadar bahwa ketika kita mennyembah mind, sesungguhnya kita berada di alam intelektual. Alam pikiran yang mengutamakan kematerilisme-an. Alam para raksasa sebagai pemuja materi. Bukan alam para dewa atau makhluk bercahaya yang bersifat sebagai pencinta alam. Atau bahkan alam itu sendiri.

Bila kita di ranah alam para raksasa, yang ita rasakan adalah kekurangan, dan kekurangan. Hampir bisa dikatakan tidak bisa memiliki rasa syukur. Inilah alam penderitaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 + 19 =

Scroll Up