Makna ‘Mulia’……….

0 Ayur Hypnotherapy | Filsafat | Pengembangan Diri No Comments

Seringkali kita mendengarkan atau menuliskan kata ‘mulia’. Tetapi benarkah ada seseorang yang mulia? Saya juga tidak bisa menjawab. Karena kemuliaan seseorang bukanlah hasil yang diperoleh dari luar. Ketika seseorang mengatakan orang lainnya mulia, itu bukan makna sesungguhnya. Itu hanya pujian. Dan bisa saja pujian kemuliaan berganti jadi caci maki. Semuanya bisa berubah. Tergantung kepentingan yang ada pada saat itu.

Lantas bagaimana memperoleh kemuliaan?

Kemuliaan hanya bisa didapatkan dari dalam diri. Bukan dari luar diri. Mulia atau tidaknya seseorang tidak dapat diukur oleh orang lain yang belum bisa mengalaminya sendiri. Celakanya, seseorang yang sudah mengalami kemuliaan tidak pernah memuji orang lain yang juga sudah merasakan kemuliaan. Alhasil, kemuliaan masih merupakan sesuatu yang misterius sampai saat ini.

 Sifat mulia identik dengan gabungan sifat bajik, suci, dan melayani. Inilah sifat alam. Sifat Tuhan…

Mungkin anda akan bertanya: Jika demikian, apa yang akan dibahas dalam artikel ini?

Pertanyaan yang menarik……

Saya hanya akan mengulas apa yang dimaksud dengan kemuliaan atau mulia sebagaimana pemahaman saya. Jika ada yang tidak setuju dengan pemahaman saya, juga sah – sah saja. Tidak salah. Karena sebagaimana saya katakan sebelumnya bahwa makna kata ‘mulia’ masih misterius.

Makna mulia menurut pemahaman saya berarti seseorang yang selalu melakoni kehidupan selaras dengan sifat alam. Sifat yang senantiasa mengasihi terhadap sesama. Sifat mengasihi ini sesungguhnya sifat alami manusia. Kasih itulah Tuhan. Dengan kata lain, jika seseorang senantiasa menyadari kehadiran Allah setiap saat, dengan sendirinya orang tersebut hidup dalam kemuliaan.

Seseorang bisa menyadari kehadiran Tuhan dalam diri sendiri. Dengan menyadari bahwa dirinya tidak terpisahkan dari Tuhan, ia juga sadar bahwa Tuhan juga ada dalam diri setiap manusia sehingga ia akan menghargai sesamanya. Ia akan berperilaku bahwa apa yang akan diperbuatnya juga cerminan keinginan perbuatan bagi dirinya. Perlakukanlan orang lain sebagaimana dirimu ingin diperlakukan.

Dengan melakoni sifat mulia ini, seseorang bisa hidup dengan tenang dan bahagia. Ketenangan dan kebahagiaan adalah hasil dari hidup dalam jalan kemuliaan. Bukan sebaliknya.

Kemuliaan seseorang terjadi jika ia bisa melakoni sifat suci, bajik, dan melayani. Dan ini bisa terjadi jika orang tersebut telah bersentuhan dengan pemilik sifat itu, Tuhan….

Kita semua tahu banyak tentang Tuhan. Tahu bukan berarti kenal. Bagaimana mengenal Tuhan?

Sebelum kita kenal Tuhan, kita mesti sadar bahwa Tuhan lebih dekat dari urat leher. Artinya tidak ada keterpisahan. Bersentuhan dengan Tuhan berarti masuk ke dalam diri sendiri karena Tuhan tidak ada di luar diri. Tuhan tidak bisa disentuh dengan panca indera. Tuhan hanya bisa dialami….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × 4 =

Scroll Up